Tentara Wanita Israel Alami Diskriminasi, Dijadikan Tumbal Saat Perang

Tentara Wanita Israel Alami Diskriminasi, Dijadikan Tumbal Saat Perang

Tentara Wanita Israel Alami Diskriminasi di IDF, Dibiarkan jadi Tawanan Hamas-Ist-

RADAR JABAR - Tidak hanya pria yang menjadi anggota Tentara IDF, kita juga tahu bahwa banyak tentara wanita yang terlibat dalam militer Israel. Tentu saja, hal ini tidak berarti bahwa mereka semua mencintai negara mereka dan secara langsung bergabung dalam tentara untuk membela tanah air mereka.

Di Israel, ada yang disebut wajib militer, di mana semua warga negara yang berusia 18 tahun dan berasal dari latar belakang Yahudi, Druze, atau Sirkasia diwajibkan untuk ikut serta.

Bagi laki-laki, wajib mengabdi selama 2,5 tahun, sementara bagi wanita, wajib militer berlangsung selama 2 tahun. Berbeda dengan beberapa negara lain seperti Korea Utara, di mana wajib militer hanya berlaku untuk laki-laki, di Israel, semua jenis kelamin wajib militer tanpa terkecuali. Fenomena wajib militer di Israel menyebabkan banyak orang bergabung dengan terpaksa karena tidak memiliki pilihan lain.

Sebagai akibatnya, beberapa orang yang menolak kebijakan ini harus melakukan berbagai tindakan untuk menghindari wajib militer, seperti yang dialami oleh Shahar Perets, seorang remaja wanita Israel yang dijebloskan ke penjara karena menolak wajib militer. Bahkan, dia telah dijebloskan sampai tiga kali karena menolak bergabung dengan IDF.

BACA JUGA:Tujuan Allah Mengumpulkan Zionis Yahudi Israel di Tanah Palestina

Konsekuensi menolak wajib militer tanpa alasan yang jelas adalah dipenjarakan. Salah satu alasan yang sering diutarakan adalah ketakutan terhadap medan perang yang dianggap terlalu menakutkan bagi sebagian besar wanita. Namun, di lapangan, ada tentara wanita Israel yang tidak disebutkan namanya yang memberikan pengakuan jujur mengenai situasi di medan perang.

Dilansir dari Times of Israel pada Rabu, 22 November 2023, para komandan senior menolak untuk memperhatikan peringatan dari tentara pengintai perempuan muda yang bertugas mengawasi perbatasan Gaza.

Sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober lalu, ketika mereka sedang menyamar di daerah perbatasan, para tentara wanita Israel mengatakan bahwa mereka melihat Hamas sedang berlatih di depan mata mereka. Namun, peringatan dari para tentara wanita ini tidak dianggap serius oleh para komandan senior IDF.

Ini terjadi karena adanya diskriminasi antara tentara wanita dan tentara laki-laki di Israel, yang disebut sebagai tindakan seksisme. seksisme adalah prasangka dan diskriminasi yang didasarkan pada gender, di mana seseorang dinilai negatif hanya karena dia perempuan.

Para tentara wanita menyatakan bahwa jika pernyataan berasal dari tentara laki-laki, maka komandan lebih cenderung mendengarkannya dibandingkan dengan tentara wanita. Tentara wanita seringkali diperlakukan dengan sikap meremehkan.

BACA JUGA:10 Fakta Lucu Tentara Israel Saat Perang di Gaza, Saling Tembak Antar Teman hingga Balapan Tank

Tentara pengintai wanita IDF, yang dalam bahasa Ibrani disebut "Tatzpitaniyot," adalah anggota Corps Pertahanan Perbatasan dan beroperasi di sepanjang perbatasan negara serta di seluruh tepi barat. Mereka sering disebut sebagai mata tentara karena memberikan informasi intelijen real-time kepada tentara di markas 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu.

Namun, karena peringatan yang diabaikan oleh komandan IDF, serangan pada 7 Oktober lalu menunjukkan bahwa tentara IDF tidak siap dalam segi pertahanan.

Surat kabar Haaretz juga melakukan investigasi tahun lalu di mana tentara pengawas perempuan menggambarkan perlakuan yang merendahkan dan menyatakan bahwa pendapat atau informasi mereka tidak dihormati.

Sumber: