Harapan Ganjar untuk Pedagang Kedelai dan Pengrajin Tahu-tempe agar Lebih Diperhatikan

Harapan Ganjar untuk Pedagang Kedelai dan Pengrajin Tahu-tempe agar Lebih Diperhatikan

Harapan Ganjar untuk Pedagang Kedelai dan Pengrajin Tahu-tempe agar Lebih Diperhatikan-Ganjar Pranowo saat mengunjungi Pasar Baru Klandasan Ilir, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Selasa (5/12)-ANTARA/Narda Margaretha Sinambela

Radar Jabar – Calon Presiden Indonesia nomor urut tiga, Ganjar Pranowo, berharap pedagang kedelai dan pengrajin tahu-tempe mendapat lebih banyak perhatian. Hal ini mengingat Bumi Pertiwi sedang dilanda masalah ketersediaan kedelai.

 

“Kedelai kita punya masalah yang serius karena memang produktivitas kita kurang,” jelas dia pasca mengunjungi Pasar Baru Klandasan Ilir, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Selasa (5/12) dikutip dari ANTARA.

 

“Minimal kalau kita harus melakukan impor ya tidak terlalu banyak,” lanjut mantan Gubernur Jawa Tengah itu.

 

Ganjar dalam kesempatan kunjungan ke Pasar Baru itu sempat berbincang dengan pedagang tempe asal Pekalongan, Jazuli. Pintanya kepada tandem Mahfud MD di Pemilu 2024 itu jika terpilih menjadi presiden berani mengintervensi terkait impor kedelai.

 

BACA JUGA:Bertemu Pelaku UMKM Bandung Barat, Istri Ganjar Pranowo Kagum dengan Produk Gula Stevia

 

Ihwal tersebut lantaran impor kedelai yang terlalu bebas bisa menyebabkan harga meroket mengingat tidak adanya batas atas harga. Maka dari itu Ganjar menegaskan pemerintah bisa melakukan intervensi lebih supaya para pengrajin tahu-tempe jadi mendapatkan perhatian khusus.

 

Melansir dari ANTARA, Indonesia tercatat merupakan salah satu negara pengimpor komoditas kedelai. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS), impor kedelai RI selama tahun 2022 mencapai 2,32 juta ton atau senilai 1,63 miliar dolar AS.

 

Rata-rata impor kedelai tuan rumah Piala Dunia U-17 2023 tersebut hingga 2 juta – 2,5 juta ton per tahun. Dari keseluruhan volume impor ini, sekira 70% di antaranya guna produksi tempe, 25% produksi tahu, sementara sisanya untuk produk lain.

 

BACA JUGA:Ganjar Pranowo Sebut Pemilih Pemula Tertarik Pada Trik Daripada Visi Misi Capres dan Cawapres

 

Menurut Andriko Noto Susanto Deputi III Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), ada beberapa faktor sehingga petani tidak mau menanam bahan baku tempe itu.

 

Salah satu penyebabnya yaitu harga yang tak sekompetitif dengan komoditas pangan lainnya macam bawang merah, cabai, jagung, hingga padi.

 

“Yang jadi penyebab kedelai tidak berkembang di Indonesia adalah harganya yang tidak kompetitif dibandingkan kalau dia menanam jagung atau padi. Misalnya semua ditanam 1 hektare, itu harganya kalah jadi makanya petani sangat rasional dan lebih menanam padi dan jagung,” kata Andriko di Jakarta, pada 22 November 2023 lalu.

Sumber: