Menteri Luhut Tanggapi Wacana Jadi Ketum Golkar Gantikan Posisi Airlangga Hartanto

Menteri Luhut Tanggapi Wacana Jadi Ketum Golkar Gantikan Posisi Airlangga Hartanto

Luhut B Pandjaitan tengah diwawancarai oleh Peter Goodman (Tangkapan layar)[email protected]

RADAR JABAR - Menteri Koordinator Bidang Kemartitiman dan Investasi Indonesia (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan diwacanakan akan menggantikan Airlangga Hartanto selaku Ketua Umum Partai Gologan Karya (Golkar). Karena itu, Menteri Luhut memberikan tanggapannya, terhadap isu tersebut.

"Kita lihat aja-lah, saya itu nggak terlalu ngurusin itu kok" ujar Luhut ketika ditemui wartawan usai acara Penandatanganan  Implementing Arrangement (IA) UK PACT Carbon Pricing di Jakarta pada Senin (24/7).

Luhut sendiri tidak berkomentar banyak ketika ditanyai mengenai peluang menjadi pimpinan partai Golkar.

"Kita lihat nanti lah" ujarnya

Sebelumnya, Ridwan Hisjam yang merupakan anggota Dewan Pakar Partai Golkar telah menilai Luhut yang merupakan Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar, dan Bambang Soesatyo yang merupakan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, layak untuk menggantikan Airlangga Hartanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

Penilaian tersebut disampaikan karena tiga ormas pendiri Partai Golkar, yakni Kosgoro 1957, Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) serta Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOSKI) telah meminta Airlangga Hartanto untuk undur dari posisi Ketua Umum DPP Golkar.

"Pak Airlangga tidak apa-apa di kementerian. Memimpin sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, tetapi Partai Golkar diserahkan kepada yang lebih mampu untuk menjaga dan mempertahankan paling tidak meningkatkan suara dari 14 persen naik," kata Lawrence T.P. Siburian selaku Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (Depinas) SOKSI dalam konferensi pers.

Selain itu Yorrys Raweyai yang merupakan politikus senior Partai Golkar menyatakan bahwa tidak diperhitungkan-nya nama Ketua Umum Partai Golkar tersebut dalam perebutan bajal capres dan juga cawapres 2024, seolah-olah dapat menjadi "bom waktu" untuk partai tersebut.

"Karena itu, boleh jadi, dalam beberapa waktu ke depan, kegagalan Airlangga dalam mewujudkan rekomendasi Dewan Pakar Partai Golkar tersebut akan menjadi 'bom waktu' yang meledak setiap saat," ujar Yorrys Raweyai

Menurutnya, atas dasar tersebut publik tengah menanti gerakan "penyelamatan" baru, contohnya fenomena yang terjadi sebelumnya.

Yorrys menyebutkan bahwa upaya yang dilakukan oleh Airlangga Hartanto dalam rangka mengkampanyekan dirinya sebagai capres ataupun cawapres, sejauh ini tidak berdampak efektif terhadap elektabilitas Golkar jika dilihat berdasarkan kalkulasi politik. Namun sebaliknya, konsolidasi internal saat kesiapan partai dalam kontestaso justru makin terhambat.*

Sumber: