Keketuaan Indonesia di D-8 Tetap Berjalan, KTT Ditunda Sementara
Logo keketuaan Indonesia di Developing Eight (D-8) periode 2026-2027. --ANTARA/HO-Kemlu RI
RADAR JABAR - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menegaskan bahwa agenda keketuaan Indonesia dalam organisasi Developing Eight (D-8) tetap berlangsung meskipun Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang semula dijadwalkan bulan ini mengalami penundaan.
Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyampaikan bahwa Indonesia masih terus memantau dinamika global guna menentukan waktu pelaksanaan berbagai agenda D-8 untuk periode 2026–2027.
Ia menegaskan bahwa sebagai ketua, Indonesia tetap berkomitmen menjalankan lima prioritas utama yang telah dirancang dalam masa kepemimpinannya.
Menurut Nabyl, seluruh agenda yang berada di bawah keketuaan Indonesia tidak dibatalkan, melainkan hanya diundur hingga situasi dinilai lebih kondusif.
BACA JUGA:AS Disebut Setujui Prinsip Proposal Damai Iran, Negosiasi Dijadwalkan Dimulai di Islamabad
BACA JUGA:Trump Usul AS Pungut Biaya Kapal di Selat Hormuz, Bukan Iran
"Sebagai ketua, kita akan terus menjalankan lima prioritas yang sudah dikembangkan Indonesia sebagai Ketua D-8," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kondisi sejumlah negara anggota yang masih menghadapi konflik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu alasan penyesuaian jadwal kegiatan.
"Prioritas-prioritas kita masih akan dilanjutkan. Tak ada pembatalan, tetapi kita hanya mencari waktu yang lebih tepat. Hal ini juga terus dikoordinasikan dengan Sekretariat Jenderal D-8 serta negara-negara anggota yang lain," katanya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Indonesia terus berkoordinasi dengan Sekretariat Jenderal D-8 serta negara-negara anggota lainnya untuk menentukan waktu yang paling tepat bagi pelaksanaan agenda tersebut.
BACA JUGA:Kapal LNG Qatar Ubah Rute, Ketegangan di Selat Hormuz Ganggu Jalur Energi Global
BACA JUGA:Selat Hormuz Siap Dibuka, Iran Minta Kompensasi Dampak Perang
D-8 sendiri merupakan organisasi kerja sama ekonomi yang didirikan pada 1997 oleh delapan negara berkembang, yaitu Indonesia, Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Azerbaijan kemudian resmi bergabung sebagai anggota kesembilan pada 2025.
Dalam periode keketuaannya, Indonesia mengusung tema “Menavigasi Pergeseran Global: Memperkuat Kesetaraan, Solidaritas, dan Kerja Sama untuk Kemakmuran Bersama.”
Sumber: