Tak Ada Lagi Dongeng di Kota Leicester
Tak Ada Lagi Dongeng di Kota Leicester--
RADAR JABAR - Pada musim 2015/2016, dunia sepak bola dikejutkan oleh kisah luar biasa ketika Leicester City berhasil menjuarai Premier League untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Prestasi tersebut terasa begitu istimewa karena Leicester bukanlah tim unggulan seperti Manchester City, Chelsea, Manchester United, Liverpool, atau Arsenal.
Dengan peluang juara yang bahkan tidak mencapai satu persen, Leicester justru mampu menciptakan keajaiban. Di bawah arahan pelatih asal Italia, Claudio Ranieri, tim berjuluk The Foxes ini tampil solid melalui kombinasi pemain berpengalaman seperti Kasper Schmeichel, Wes Morgan, dan Jamie Vardy, serta talenta muda berbakat seperti N’Golo Kanté dan Riyad Mahrez.
BACA JUGA:Barcelona Mau Jual 5 Pemain Kunci di Musim Panas 2026, Termasuk Frenkie de Jong
Leicester mengakhiri musim dengan catatan impresif dimana 23 kemenangan, 12 hasil imbang, dan hanya tiga kekalahan. Mereka mencetak 68 gol dan kebobolan 36 kali, cukup untuk mengungguli Arsenal yang harus puas finis sebagai runner-up. Keberhasilan ini dianggap sebagai salah satu kisah paling ajaib dalam sejarah sepak bola modern.
Namun, kisah indah tersebut perlahan berubah menjadi realitas pahit. Keterbatasan finansial membuat Leicester kesulitan mempertahankan konsistensi di papan atas. Seiring waktu, mereka kehilangan banyak pemain kunci dan gagal melakukan regenerasi yang optimal.
Kini, kondisi klub berbanding terbalik. Leicester justru terpuruk di papan bawah EFL Championship, bahkan harus menerima kenyataan pahit terdegradasi ke kasta ketiga, EFL League One. Kepastian itu didapat setelah hasil imbang melawan Hull City membuat mereka tak mampu mengejar poin Blackburn Rovers.
BACA JUGA:Jadwal Super League Pekan ke-29: Persib vs Arema dan Borneo FC Incar Puncak Klasemen
Dengan hanya mengoleksi 42 poin dan tersisa dua pertandingan, Leicester tidak lagi memiliki peluang untuk bertahan. Ini menjadi kali pertama mereka kembali ke divisi ketiga sejak musim 2008–2009.
Ironisnya, Leicester sebenarnya memiliki nilai belanja pemain tertinggi di Championship. Sejumlah nama berpengalaman seperti Asmir Begović, Harry Winks, hingga Jordan Ayew didatangkan. Namun, performa tim tetap tidak konsisten sepanjang musim.
Pergantian pelatih yang terlalu sering juga memperburuk situasi. Sejak era Ranieri, klub telah mengalami belasan kali perubahan manajer, termasuk nama-nama seperti Brendan Rodgers dan Enzo Maresca. Ketidakstabilan ini membuat Leicester gagal menemukan fondasi yang kuat.
Selain itu, kepergian pemain-pemain penting seperti Riyad Mahrez dan N’Golo Kanté tidak diimbangi dengan regenerasi yang baik. Bahkan talenta seperti Harvey Barnes pun tak mampu dipertahankan lama.
Kini, Leicester menghadapi krisis yang lebih dalam, baik secara performa maupun manajemen. Kritik dari suporter semakin keras, terutama karena dianggap tidak adanya sosok pemimpin di dalam tim.
Pada akhirnya kisah ajaib ini hanya ditakdirkan sekali dan takan terulang lagi.***
Sumber: