Korea Utara Dukung Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Kecam Serangan AS dan Israel

Korea Utara Dukung Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Kecam Serangan AS dan Israel

Presiden AS Donald Trump (kanan) berjabat tangan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri) pada awal pertemuan puncak bersejarah AS-Korea Utara, di Hotel Capella di pulau Sentosa, Singapura pada 12 Juni 2018. Donald Trump dan Kim Jong Un pada 12 Jun--ANTARA/Andolu-KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMASI, REPUBLIK SINGAPURA/ HANDOUT/pri.

RADAR JABAR - Korea Utara menyatakan dukungannya terhadap keputusan Iran yang menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut. Pada saat yang sama, Pyongyang juga mengecam keras serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sebagaimana dilaporkan media pemerintah pada Rabu.

Pemerintah di Pyongyang menyatakan bahwa mereka menghormati keputusan Majelis Pakar Iran yang memilih Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru pada 8 Maret. Penunjukan itu dilakukan setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Dalam pernyataan resmi yang dikutip oleh Korean Central News Agency (KCNA), seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menegaskan bahwa negaranya menghormati hak rakyat Iran dalam menentukan pemimpin tertinggi mereka sendiri.

Menurut pernyataan tersebut, pemerintah Korea Utara memandang bahwa keputusan Majelis Pakar Iran merupakan hak kedaulatan negara dan bagian dari pilihan politik rakyat Iran. Pyongyang juga menilai proses tersebut sebagai urusan internal yang patut dihormati oleh komunitas internasional.

BACA JUGA:Prancis Minta Sidang Darurat DK PBB Setelah Situasi di Lebanon Memanas

BACA JUGA:Anak Donald Trump Investasi di Perusahaan Drone Powerus yang Bidik Kontrak Pentagon

Lebih lanjut, juru bicara tersebut menyampaikan keprihatinan serius atas meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Ia menilai serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebagai tindakan agresi yang berpotensi merusak stabilitas regional.

Korea Utara secara tegas mengutuk operasi militer tersebut karena dianggap telah merusak fondasi perdamaian dan keamanan di kawasan. Pyongyang juga menilai bahwa tindakan tersebut berkontribusi pada meningkatnya ketidakstabilan global.

Ketegangan di Timur Tengah sendiri meningkat tajam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan korban jiwa yang cukup besar. Hingga kini, jumlah korban dilaporkan telah melampaui 1.200 orang.

Situasi tersebut memicu respons balasan dari pihak Iran. Pemerintah di Iran kemudian melancarkan serangan menggunakan pesawat nirawak dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi penempatan aset militer Amerika Serikat.

BACA JUGA:Uni Eropa Desak Israel Hentikan Operasi Darat di Lebanon dan Serukan Deeskalasi

BACA JUGA:OKI Kecam Kekerasan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina di Tepi Barat

Serangan balasan tersebut dilaporkan menewaskan delapan anggota militer Amerika Serikat. Perkembangan ini semakin memperbesar kekhawatiran komunitas internasional mengenai potensi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Di tengah situasi yang memanas, pernyataan dukungan dari Korea Utara terhadap kepemimpinan baru Iran dinilai sebagai sinyal politik penting. Pyongyang secara terbuka menegaskan posisinya dalam mendukung kedaulatan Iran sekaligus menentang tindakan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Para pengamat menilai bahwa pernyataan tersebut juga mencerminkan sikap konsisten Korea Utara yang sering mengkritik kebijakan militer Washington di berbagai kawasan dunia. Dukungan terhadap Iran dalam situasi ini memperlihatkan kedekatan sikap politik kedua negara dalam menghadapi tekanan dari Barat.

 

Seiring meningkatnya ketegangan, berbagai pihak internasional terus menyerukan upaya diplomasi untuk mencegah konflik semakin meluas. Namun hingga kini, situasi di kawasan masih berada dalam kondisi yang sangat tegang dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.*

Sumber: