Iran Tegaskan Kesiapan Militer di Tengah Negosiasi dengan AS

Iran Tegaskan Kesiapan Militer di Tengah Negosiasi dengan AS

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melihat foto dan tas sekolah anak-anak yang tewas dalam serangan Minab, yang diletakkan di kursi selama penerbangannya ke Islamabad di Iran pada Sabtu (11/4/2026). --ANTARA/Iranian Parliament Speaker Office/Anadolu/pri

RADAR JABAR - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa angkatan bersenjata negaranya tetap berada dalam kondisi siaga penuh, meskipun proses perundingan antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung untuk meredakan konflik di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataannya, Ghalibaf menyampaikan bahwa Iran tidak menaruh kepercayaan terhadap pihak lawan. Ia menekankan bahwa potensi konflik bersenjata bisa terjadi kapan saja, sehingga kesiapan militer menjadi hal yang mutlak. Menurutnya, seluruh pasukan Iran saat ini telah berada dalam posisi siap tempur di lapangan.

Lebih lanjut, ia juga membantah anggapan bahwa negosiasi yang sedang berjalan dapat membuat Iran lengah dalam menjaga keamanan nasional. Ghalibaf memastikan bahwa proses diplomasi tidak akan mengurangi kewaspadaan militer. Ia menambahkan bahwa sebagaimana masyarakat yang tetap waspada, angkatan bersenjata Iran juga berada dalam kondisi siaga penuh.

Sebelumnya, media Pakistan melaporkan bahwa putaran kedua perundingan antara AS dan Iran direncanakan berlangsung di Islamabad, dengan kemungkinan digelar pada akhir pekan mendatang.

BACA JUGA:G7 Perkuat Kolaborasi Global untuk Kurangi Ketergantungan Mineral pada China

BACA JUGA:Trump Klaim Iran Setuju Mengakhiri Program Nuklirnya Secara Tanpa Batas

Diketahui, konflik antara kedua pihak memanas sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran yang menyebabkan lebih dari 3.000 korban jiwa. Situasi sempat mereda setelah kedua negara sepakat melakukan gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April.

 

Namun, perundingan yang berlangsung di Islamabad dilaporkan tidak membuahkan hasil. Meski belum ada tanda dimulainya kembali konflik terbuka, Amerika Serikat disebut telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Kondisi ini mendorong pihak mediator untuk kembali mengupayakan kelanjutan dialog guna meredakan ketegangan.*

Sumber: