Harga Dolar Hari Ini Tembus Rp17.700, Ini Faktor yang Membuat Rupiah Melemah

Harga Dolar Hari Ini Tembus Rp17.700, Ini Faktor yang Membuat Rupiah Melemah

Ilustrasi-pvproductions-magnific

RADAR JABAR - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pada Jumat, 15 Mei 2026, masih berada di level tinggi. Berdasarkan kurs pasar dan sejumlah bank besar di Indonesia, dolar AS diperdagangkan di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per 1 USD.

Di pasar valuta asing, kurs USD/IDR tercatat berada di sekitar Rp17.605 per dolar AS, sementara sejumlah bank nasional seperti Bank Central Asia atau BCA menetapkan kurs beli sekitar Rp17.445 per USD untuk transaksi penukaran tunai. Adapun kurs jual berada di kisaran Rp17.535 hingga Rp17.590 per dolar AS.

Menguatnya dolar AS terhadap rupiah dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor penting. Salah satu penyebab utama adalah kebijakan suku bunga tinggi yang diterapkan bank sentral AS, yakni Federal Reserve atau The Fed.

Diketahui bahwa suku bunga di AS naik, imbal hasil investasi berbasis dolar seperti obligasi pemerintah menjadi lebih menarik bagi investor global. Akibatnya, banyak investor memindahkan dana mereka ke aset berdenominasi dolar AS. Permintaan dolar pun meningkat dan nilai mata uang tersebut menguat terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.

BACA JUGA:Simak Cicilan Pinjaman Rp10 Juta di KUR BRI 2026, Mulai Rp216 Ribuan

BACA JUGA:Pinjaman Rp10 Juta di KUR BRI 2026, Segini Cicilan per Bulannya

Selain itu, situasi geopolitik global juga menjadi faktor yang mendorong penguatan dolar. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, konflik antarnegara, hingga ketidakpastian ekonomi global membuat investor mencari aset yang dianggap aman atau safe haven, yang diketahui bahwa Dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika sering menjadi pilihan utama saat kondisi global tidak stabil.

Kenaikan harga minyak dunia juga ikut memberi tekanan terhadap rupiah. Indonesia masih bergantung pada impor minyak sehingga lonjakan harga energi dapat meningkatkan beban ekonomi dan memicu inflasi.

Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung melepas aset berisiko termasuk rupiah, sehingga nilai tukar mata uang Indonesia melemah.

Dari sisi domestik, kondisi ekonomi Indonesia turut memengaruhi pergerakan rupiah. Defisit transaksi berjalan, tekanan terhadap anggaran negara, hingga berkurangnya kepercayaan investor asing dapat membuat aliran modal keluar dari Indonesia semakin besar.*     

Sumber: