RADAR JABAR - Penguatan rantai nilai inklusif menjadi kunci dalam mendorong modernisasi peternak sapi perah di Jawa Barat sekaligus menjaga keberlanjutan industri susu nasional. Upaya ini tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan produktivitas, tetapi juga memastikan keterlibatan peternak kecil agar memperoleh akses yang setara terhadap pembiayaan, pasar, dan layanan pendukung.
Manajer proyek Mempromosikan Usaha UKM melalui Peningkatan Akses Wirausaha terhadap Jasa Keuangan Tahap 2 (PROMISE II IMPACT), Djauhari Sitorus, menyampaikan, sejak 2023, International Labour Organization (ILO) melalui program PROMISE II IMPACT berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan ekosistem pendukung usaha. Proyek yang didukung Pemerintah Swiss ini mendorong transformasi digital sekaligus memperkuat keterhubungan antara peternak, lembaga keuangan, koperasi, dan pasar di sejumlah daerah, termasuk Jawa Barat sebagai salah satu sentra susu nasional.
“Keuangan yang inklusif bukan hanya soal akses, tetapi juga menciptakan perubahan nyata pada mata pencaharian masyarakat. Dalam kerangka Agenda Kerja Layak ILO, proyek turut mendorong kesehatan finansial, produktivitas, dan ketahanan usaha,” ucap Djauhari.
Ia mengatakan implementasi proyek di lapangan di sektor sapi perah dijalankan melalui kemitraan dengan Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) di Pangalengan, Bandung Selatan. Koperasi ini menjadi simpul penting dalam rantai nilai susu, tidak hanya sebagai pengumpul dan pemasok susu segar ke industri pengolahan, tetapi juga sebagai penghubung utama peternak rakyat dengan akses pembiayaan dan layanan usaha.
BACA JUGA:Dilantik Jadi Ketua Perwosi Kota Cirebon, Wakil Wali Kota Dorong Perempuan untuk Aktif Berolahraga
BACA JUGA:Momentum Hari Jadi ke-385, KDS Instruksikan Camat, Kades hingga Masyarakat Beberesih Lingkungan
“Tujuan proyek ini adalah membangun ekosistem keuangan yang lebih inklusif bagi UMKM di dalam rantai nilai,” kata Djauhari.
Direktur KPBS Pangalengan, Aun Gunawan, menyebut koperasi memiliki peran strategis dalam memastikan peternak, terutama yang berskala kecil, sehingga dapat terintegrasi dalam sistem usaha yang lebih modern dan berkelanjutan. Melalui koperasi, peternak tidak hanya mendapatkan kepastian pasar, tetapi juga pendampingan usaha dan akses terhadap inovasi.
Transformasi digital menjadi salah satu instrumen penting dalam penguatan rantai nilai tersebut. Lebih dari 2.000 peternak yang tergabung dalam KPBS kini telah terhubung melalui sistem yang terintegrasi untuk mengotomatisasi dan mengelola proses bisnis inti, atau biasa disebut dengan sistem Enterprise Resource Planning (ERP). Sistem ini digunakan di KPBS untuk pencatatan produksi dan manajemen usaha. Dari jumlah itu, sebanyak 429 peternak telah memanfaatkan akses pendataan yang lebih efisien dan pembiayaan berbasis digital.
Dari sisi pembiayaan, koperasi dan lembaga keuangan seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR) berperan langsung dalam memperluas inklusi keuangan. Melalui data-data yang sudah terintegrasi dalam sistem digital, proses pengajuan kredit menjadi lebih sederhana, cepat, dan juga terjamin, sehingga peternak kecil yang sebelumnya sulit mengakses pinjaman kini memiliki peluang yang lebih besar untuk mengembangkan usahanya.
"Kalau mau pinjam kredit, tinggal masukin di handphone, langsung terkoneksi ke BPR, dalam 2-3 hari cair,” ucapnya.
Melalui sistem ERP ini, selain peternak kini memiliki data hasil produksi dan penjualan, peternak juga langsung terhubung dengan layanan pendukung lainnya, mulai dari penyedia pakan dan layanan kesehatan hewan. Pendekatan berbasis ekosistem ini memperkuat posisi peternak dalam rantai nilai, sekaligus meningkatkan daya tawar mereka.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi di tingkat hulu. Aun mengungkapkan persoalan klasik seperti keterbatasan lahan pakan hijauan, populasi sapi yang belum optimal, serta kualitas genetik ternak masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama.
“Pertama soal lahan untuk pakan hijauan, kedua populasi sapi, dan ketiga kualitas genetik ternak,” kata Aun.
BACA JUGA:KDS Tegaskan Program Pentahelix Bisa Mengantisipasi Masalah Kebencanaan Banjir