RADAR JABAR - Seiring perayaan 3 tahun Grey Art Gallery, penguatan ekosistem juga ditandai dengan kehadiran GREY CUBE, ruang baru yang berlokasi di Jl. Dago No. 169 Lantai 3, Kecamatan Coblong, Bandung. GREY CUBE dirancang bukan sebagai ruang yang berdiri sendiri, melainkan sebagai penguat lapisan ekosistem Grey dengan fokus kuratorial yang lebih terarah.
Pemilihan karya di GREY CUBE berangkat dari praktik artistik yang telah berkembang dan memiliki relevansi dalam lanskap seni rupa yang lebih luas. Pendekatan ini memungkinkan karya hadir dengan posisi artistik yang tegas, sekaligus mendukung sirkulasi dan distribusi tanpa memutus kesinambungan dengan ruang Grey lainnya.
Pada edisi pembukaannya, GREY CUBE menampilkan karya dari Aryo Saloko, Eldwin Pradipta, Heri Dono, Ikie Morphacio, Joko Avianto, Mujahidin Nurrahman, RE Hartanto, dan Toni Antonius. Masing-masing seniman hadir dengan karakter dan kekuatannya sendiri, tanpa upaya penyeragaman gaya.
Peresmian GREY CUBE dibuka langsung oleh perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Kabid Ekraf Disbudpar Kota Bandung, Faisal Tachir, menyampaikan apresiasinya terhadap kehadiran ruang ini.
“Mudah-mudahan ini menjadi pemicu bagi kita semua untuk aktif mengembangkan 17 subsektor ekonomi kreatif, khususnya seni rupa yang diwadahi oleh galeri seni di Kota Bandung,” ucap Faisal.
GREY CUBE dibuka untuk umum setiap hari pukul 10.00–20.00 WIB, dengan tiket masuk mulai dari Rp25.000, menyesuaikan tema pameran yang berlangsung.
Grey Award 2026, Monokrom sebagai Sikap Artistik
Selain pengembangan ruang, Grey Art Gallery juga melanjutkan komitmennya melalui Grey Award 2026, yang tahun ini memasuki edisi kedua. Mengusung tema “Monochrome as Manifesto”, Grey Award memosisikan monokrom hitam–putih bukan sekadar pendekatan visual, melainkan sikap konseptual dan kuratorial.