GREY CUBE: Simpul Baru dalam Ekosistem Seni Rupa Bandung

Kamis 05-02-2026,10:29 WIB
Reporter : Tiara Disa P
Editor : Tiara Disa P

 

General Manager Grey Art Gallery, Angga A. Atmadilaga, menjelaskan bahwa pembatasan spektrum warna justru menjadi ruang eksplorasi yang menuntut ketajaman berpikir dan kepekaan visual.

 

“Kerangka karya dibatasi pada monokromatik hitam–putih—spektrum hitam, putih, dan gradasi abu-abu—sebagai pilihan artistik dan sikap kuratorial. Pembatasan ini tidak dimaksudkan sebagai pengekangan, melainkan sebagai medan yang menuntut ketajaman berpikir, ketegasan artikulasi visual, serta kepekaan terhadap struktur visual, cahaya, bayangan, tekstur, dan materialitas karya,” ujarnya.

 

Antusiasme tinggi tercermin dari 931 karya yang dikirimkan oleh 710 seniman dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah proses seleksi oleh dewan juri Wiyu Wahono, Heri Pemad, dan Angga Aditya, terpilih 65 karya dari 60 seniman untuk dipamerkan. Tahap selanjutnya akan menyaring 10 finalis, hingga akhirnya ditetapkan 3 penerima Grey Award 2026.

 

Lebih dari sekadar kompetisi, Grey Award dirancang sebagai jembatan bagi seniman, khususnya generasi muda, untuk memasuki medan sosial seni rupa yang lebih luas, membangun jejaring, serta memperluas akses terhadap publik dan institusi seni.

 

Pameran Grey Award 2026 dapat dikunjungi di Grey Art Gallery, Jl. Braga No. 47, Bandung, setiap hari dengan jam operasional weekday pukul 10.00–20.00 WIB dan weekend pukul 10.00–22.00 WIB.

 

Melalui kehadiran GREY Hair and Nail Artistry, GREY CUBE, dan penyelenggaraan Grey Award 2026, Grey Art Gallery menegaskan perannya bukan hanya sebagai ruang pamer, tetapi sebagai penggerak struktur, percakapan, dan peluang bagi pertumbuhan ekosistem seni rupa kontemporer yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Bandung. (*)

Tags :
Kategori :

Terkait