UPI Dampingi Penguatan Manajemen Sekolah Rakyat Lewat Model BRIDGE
UPI Dampingi Penguatan Manajemen Sekolah Rakyat Lewat Model BRIDGE--
RADAR JABAR, BANDUNG – Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa Pendampingan Manajemen Sekolah Rakyat Berbasis Model BRIDGE (Building Resilient and Integrated Development for Governance Excellence) di Sekolah Rakyat 16 BANDUNG. Program berlangsung selama 10 hari, mulai 29 Juni hingga 8 Juli 2026, dan diikuti 12 guru inti serta didukung tim dosen dan fasilitator FIP UPI.
Pembukaan program dilaksanakan pada Senin (29/6/2026) secara daring melalui Zoom dan dibuka oleh Dekan FIP UPI sekaligus Ketua Tim PkM, Prof. Dr. Hj. Aan Komariah, M.Pd. Menurutnya, program tersebut lahir dari kebutuhan nyata untuk memperkuat tata kelola Sekolah Rakyat yang melayani peserta didik dari keluarga kurang mampu.
"Program ini lahir dari keprihatinan nyata. Sekolah Rakyat melayani keluarga yang paling membutuhkan, tetapi pengelolaannya masih memerlukan penguatan yang terstruktur. Kami hadir bukan hanya untuk melatih, tetapi membangun sistem yang bertahan setelah kami pergi," ujar Aan.
Tahap pembelajaran dimulai pada Selasa (30/6/2026) melalui materi yang disampaikan Dr. Cucun Sunaengsih, M.Pd. dari FIP UPI. Dalam sesi tersebut, para guru diperkenalkan konsep Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning sebagai fondasi pembelajaran yang berpusat pada kesadaran, kebermaknaan, dan suasana belajar yang menyenangkan.
"Pembelajaran mendalam bukan soal kurikulum yang rumit. Ini soal bagaimana seorang guru hadir secara penuh di depan siswanya, sadar, bermakna, dan menyenangkan," kata Dr. Cucun.
Usai pelatihan, setiap guru menyusun modul ajar yang langsung diimplementasikan di kelas mulai 1 hingga 6 Juli 2026. Selama proses tersebut, para guru mendapat pendampingan intensif dari tim fasilitator FIP UPI yang terdiri atas Aulia Riski, M.Pd., Novebri, M.Pd., M. Irvan Gunawan, S.Pd., Syifa Hanifa Salsabil, M.Pd., Dr. Siti Nurlatifah, M.Pd., dan Asep Dikdik, M.Pd.
Menurut Dr. Siti Nurlatifah, pendampingan dilakukan bukan untuk menilai, melainkan memberikan dukungan kepada guru ketika menghadapi berbagai dinamika pembelajaran di kelas.
Menariknya, sebagian besar peserta merupakan guru muda yang merasakan pengalaman baru saat mengajar di Sekolah Rakyat. Mereka tidak hanya menjalankan peran sebagai pendidik, tetapi juga menjadi figur orang tua bagi siswa yang membutuhkan perhatian dan pendampingan.
Berbagai perubahan positif pun mulai terlihat. Guru mengungkapkan siswa menjadi lebih aktif bertanya, lebih percaya diri, dan suasana kelas terasa lebih hangat. Seluruh pengalaman tersebut didokumentasikan dalam jurnal refleksi sebagai bagian dari evaluasi program.
Penutupan kegiatan dilaksanakan pada Rabu (8/7/2026) di Sekolah Rakyat 16 Bandung dan dihadiri 18 guru. Dalam sesi refleksi, guru IPA Neng Yuni Marhamah mengaku pengalaman mengajar di Sekolah Rakyat telah membentuk kedewasaan dirinya sebagai pendidik.
Sementara itu, guru Fisika Winarni Listiawati menilai mengajar di Sekolah Rakyat bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan menghadirkan kepedulian bagi peserta didik.
Sumber: