Dolar AS Menguat ke Rp17.600-an, Ini Faktor yang Membuat Rupiah Tertekan
Ilustrasi-jcomp-magnific
RADAR JABAR - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah kembali berada di level tinggi pada perdagangan hari ini, 16 Mei 2026. Berdasarkan kurs di sejumlah bank dan pasar internasional, dolar AS diperdagangkan di kisaran Rp17.550 hingga Rp17.650 per 1 USD untuk transaksi penjualan ke publik.
Kenaikan dolar terhadap rupiah dipengaruhi berbagai faktor global maupun domestik. Mulai dari kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, konflik geopolitik dunia, hingga kondisi perdagangan dan fiskal Indonesia yang ikut memberi tekanan terhadap mata uang rupiah.
Berdasarkan data kurs perbankan, Bank Negara Indonesia atau BNI menetapkan kurs sekitar Rp17.330 per dolar AS untuk pembelian dan Rp17.630 untuk penjualan. Sementara itu, kurs elektronik atau e-Rate dari Bank Central Asia berada di kisaran Rp17.445 untuk beli dan Rp17.595 per dolar AS untuk jual.
Di pasar internasional, pasangan mata uang USD/IDR juga berada di level sekitar Rp17.605 hingga Rp17.610 per dolar AS secara real-time. Hal ini menunjukkan dolar masih bertahan kuat terhadap banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
BACA JUGA:PKH Tahap 2 Cair Lewat Mandiri dan BNI, Buruan Cek Saldo Sekarang!
BACA JUGA:Segini Modal Buka Alfamart di 2026, Bisa Balik Modal Berapa Lama?
Salah satu penyebab utama penguatan dolar adalah kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan oleh bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menekan inflasi di Amerika Serikat.
Suku bunga tinggi membuat aset berbasis dolar seperti obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik bagi investor global. Akibatnya, arus dana banyak mengalir ke Amerika Serikat dan mendorong nilai dolar semakin menguat di pasar internasional.
Selain itu, ekonomi AS yang dinilai masih cukup kuat juga membuat dolar tetap dianggap sebagai aset aman atau safe haven currency. Saat kondisi dunia penuh ketidakpastian, investor cenderung menyimpan dana mereka dalam bentuk dolar AS.
Faktor global lainnya yang ikut memperkuat dolar adalah kenaikan harga minyak dunia. Karena perdagangan minyak menggunakan dolar AS, permintaan terhadap mata uang tersebut meningkat ketika harga energi naik. Konflik geopolitik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina juga membuat sentimen pasar menjadi lebih berhati-hati.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi tingginya kebutuhan impor, terutama bahan bakar minyak dan bahan baku industri. Ketika kebutuhan dolar untuk impor meningkat sementara ekspor tidak cukup kuat menyeimbangkan permintaan tersebut, rupiah menjadi lebih lemah.
Kekhawatiran terhadap kondisi anggaran negara dan potensi pelebaran defisit fiskal juga membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset di negara berkembang, termasuk Indonesia. Situasi ini akhirnya membuat dolar AS terus bertahan di level tinggi terhadap rupiah.*
Sumber: