Rupiah Loyo di Tengah Ketegangan Global, Dolar AS Menguat
Ilustrasi--Freepik
RADAR JABAR - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada Selasa, 28 April 2026, diperkirakan masih berada dalam tekanan dengan kecenderungan fluktuatif di kisaran Rp17.210 hingga Rp17.260 per USD.
Berdasarkan data terbaru, kurs rupiah pada perdagangan sebelumnya berada di sekitar Rp17.210 per USD, yang mencerminkan penurunan sekitar 0,34% atau setara Rp58,80 dibandingkan hari sebelumnya. Kondisi ini menandakan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat, terutama dari sentimen eksternal.
Mengacu pada kurs referensi Bank Indonesia pada 27 April 2026, nilai tukar berada di kisaran Rp17.191,61 untuk pembelian dan Rp17.364,39 untuk penjualan. Sementara itu, beberapa bank besar di Indonesia juga menunjukkan kisaran kurs yang relatif serupa.
Diketahui bahwa Bank Central Asia mencatat kurs Rp17.085 (beli) dan Rp17.385 (jual), Bank Mandiri di Rp17.020 dan Rp17.320, serta Bank Negara Indonesia di Rp17.120 dan Rp17.320. Di sisi lain, nilai pasar real-time menunjukkan angka sekitar Rp17.209,67 per USD.
BACA JUGA:PKH dan BPNT April 2026 Mulai Dicairkan, Cek Status Kamu Sekarang
Dalam perkembangan terkini, rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 1,52% secara bulanan dan 1,56% secara tahunan. Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi ini adalah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, khususnya terkait jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi global.
Di pasar global, Indeks Dolar AS (DXY) sempat menguat tipis ke level 98,5968 pada 26 April. Namun, indeks tersebut diproyeksikan melemah ke level 98,16 pada akhir kuartal dan berpotensi turun lebih jauh ke 96,50 dalam 12 bulan ke depan. Meski demikian, volatilitas masih tinggi karena pelaku pasar terus mencermati perkembangan negosiasi di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan antara AS dan Iran juga sempat mendorong dolar menguat hingga level 99,3 sebelum akhirnya turun kembali di bawah 98,5. Kebijakan Presiden Donald Trump yang membatalkan pengiriman utusan ke Iran turut meningkatkan ketidakpastian di pasar, sehingga investor cenderung bersikap hati-hati.
Selain faktor eksternal, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh tekanan terhadap indeks dolar secara keseluruhan. Rupiah tercatat melemah sekitar 1,55% terhadap DXY dalam periode bulanan, menunjukkan adanya tekanan yang konsisten.
Ke depan, Bank Indonesia bersama para analis memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.085,8 pada kuartal II 2026. Meski demikian, pergerakan jangka pendek masih akan sangat bergantung pada dinamika global, khususnya perkembangan geopolitik dan sentimen pasar internasional.*
Sumber: