Peringati Harganas, DKPPB Rangkul Zilenial untuk Sambut Program Indonesia Emas

Peringati Harganas, DKPPB Rangkul Zilenial untuk Sambut Program Indonesia Emas

Ketua DPPKB Kota Bandung, Kenny Dewi Kaniasari tengah memberi paparan kepada wartawan di Taman Sejarah Kota Bandung, Rabu (20/7). (Arvi/Jabar Ekspres)--

BANDUNG – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPB) Kota Bandung tengah mempersiapkan puncak pelaksanaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Plaza Balai Kota. Kegiatan yang akan digelar pada 23 Juli mendatang ini akan dimeriahkan oleh beragam acara, termasuk merangkul Zilenial untuk menciptakan program Indonesia Generasi Emas 2045.

“Tantangan kita ini adalah Gen Z atau milenial (Zilenial), mulai dari cara pergaulan, tentang seks bebas, pernikahan dini, narkoba dan sebagainya. Kita dalam rangka untuk mengawal generasi unggul dalam rangka menyambut indonesia generasi emas, itu tantangannya cukup berat dan menantang,” ujar Ketua DPPKB Kota Bandung, Kenny Dewi Kaniasari kepada wartawan di Taman Sejarah Kota Bandung, Rabu (20/7).

“Makanya agar gen z ini dapat teredukasi dengan lebih baik, kita adakan generasi berencana (genre) yang edukasinya dikemas melalui film-film pendek, atau nanti kita akan libatkan komunitas-komunitas yang sekarang lagi digandrungi, seperti Korean Wave,” sambungnya.

Menurutnya, dengan menggunakan bahasa dan gaya bergaul Gen Z informasi yang diberikan akan tersampaikan dengan baik. Kenny menambahkan dengan latar belakang bidang pariwisata dan kenkraf, dirinya akan melibatkan banyak komunitas ekonomi kreatif.

“Agar bersama memperjuangkan menciptakan generasi unggul yang dapat berkontribusi pada generasi emas di 2045. Ini kerja bersama, dan pastinya saya akan ajak para pelaku ekonomi kreatif untuk membantu mengemas informasi edukasi ke generasi milenial dan tentunya ke lansia dan ibu-ibu dan bapak-bapak juga tentang bahaya stunting dan lainnya,” jelasnya.

Meski masih banyak isu yang harus diselesaikan Kenny tetap optimis, mengingat nasional 2024 berada di angka 14 persen untuk stunting, sedangkan Kota Bandung masih 26,4 persen di 2021. Menurutnya, ini adalah tantangan sehingga ia membentuk tim percepatan penurunan stunting di Kota Bandung.

“Itu tugas kita semua. Media juga akan kita ajak kolaborasi karena kita harus lebih intensif dan masif lagi untuk menginformasi dan mengedukasi tentang program pencegahan pernikahan dini,” tutur Kenny.

“Ada tiga program yang kota fokuskan, yaitu pernikahan dini, pergaulan bebas, dan narkoba. Tiga itu yang terus kita edukasi bahayanya, terutama untuk kesehatan reproduksi. Secara mental itu juga tidak baik,” paparnya.

Sumber: