Era AI, Era Kolaborasi, Hadirkan Dampak Besar untuk Negeri

Era AI, Era Kolaborasi, Hadirkan Dampak Besar untuk Negeri

Era AI, Era Kolaborasi, Hadirkan Dampak Besar untuk Negeri--

RADAR JABAR - Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) kini sudah menjadi kebutuhan sekunder dalam rutinitas keseharian masyarakat. Agar dampaknya lebih luas dan bisa dimanfaatkan secara mudah oleh masyarakat, LLDIKTI Wilayah IV bersama Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) UNPAD berkolaborasi untuk menggabungkan kekuatan para pakar AI melalui FGD Konsorsium AI yang diselenggarakan pada Kamis, 5 Februari 2026 di kantor LLDIKTI Wilayah IV.

Kepala LLDIKTI Wilayah IV, Lukman menyampaikan, Indonesia perlu berkaca dari empat negara yang kampusnya sangat intens riset mengenai AI, di antaranya Cina, Korea, Jepang, dan Singapura. Terlebih dari Rp135 miliar dana hibah penelitian, sekitar Rp38 miliar di antaranya merupakan penelitian AI. 

“Bahkan, ada salah satu perguruan tinggi yang membuat penelitian alat pilah sampah menggunakan basis AI. Namun, sampai saat ini masih dikerjakan sendiri dan baru sampai di tahap otomasinya. Hal ini bisa dikembangkan lebih jauh jika kita membangun konsorsium,” ungkap Lukman.

Oleh karena itu, ia berharap melalui konsorsium ini terbentuk kolaborasi dan terdapat roadmap yang terarah demi mengembangkan AI di ranah perguruan tinggi. Ia menyebutkan, total perguruan tinggi di lingkungan LLDIKTI Wilayah IV sebanyak 433 perguruan tinggi yang terdiri dari PTS dan PTN. Serta, terdapat 3.000 prodi yang memiliki potensi masing-masing di bidangnya.

 

 

BACA JUGA:ATR BPN Kabupaten Bandung Serahkan Ratusan Sertifikat Milik Warga Gunungleutik Melalui PTSL Secara Gratis

 

“Salah satunya prodi Kecerdasan Buatan. Prodi ini bisa didukung juga dengan prodi Informatika dan Komputer (Infokom) yang punya potensi untuk pengembangan AI. Namun, kita tidak bisa sendirian, kita berharap ini bisa dimasukkan sebagai pembelajaran ke mahasiswa, diharapkan ada kurikulumnya juga untuk mahasiswa di kampus,” ujarnya.

Lukman menambahkan, dengan adanya konsorsium AI, maka para perguruan tinggi akan saling terhubung, sehingga semua bisa bekerja sama dan sama-sama bekerja demi mewujudkan dampak yang lebih besar. Sebab baginya, hal yang terpenting bukan sekadar teori, tapi membangun kesepahaman ekosistemnya melalui konsorsium.

“Akan luar biasa jika ada yg bisa kita kembangkan di konsorsium ini. Langkah strategisnya adalah mentransformasi ide menjadi aksi nyata, memperluas infrastruktur AI, melatih talenta, dan mendorong implementasi solusi AI konkret untuk dampak maksimal di Perguruan Tinggi,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Inovasi Pengajaran dan Pembelajaran UNPAD, Intan Nurma Yulita mengatakan, melalui konsorsium perguruan tinggi akan saling mengenal, salah satunya lewat pameran untuk lebih mengetahui kompetensi dari masing-masing kampus.

“Kita perlu ada kumpul bersama agar bisa mengetahui kekuatan satu sama lain. Bukan hanya konteks riset, tapi juga pembelajaran. Sehingga, kita bisa mewujudkan inklusivitas yakni AI dapat digunakan untuk semua kampus dengan menghapus jurang digital antar-institusi pendidikan tinggi,” tutur Intan.

Ia menyebutkan, terdapat lima pilar ekosistem konsorsium AI, yakni AI Campus, AI Playground, AI Connect, AI Hub, dan AI Policy. Melalui konsorsium ini, para pakar yang ada bisa berbagi ilmu dan ide dengan yang lainnya karena kita menggunakan model kolaborasi. 

“Selain berbagi infrastruktur komputasi, akses materi pelatihan standar global, kita juga melakukan pendampingan teknis bagi dosen di luar prodi IT, seperti hukum, ekonomi, sosial, dan lainnya,” ucapnya.

Dalam FGD Konsorsium AI ini, telah disepakati timeline selama 100 hari ke depan berisikan roadmap global competitive edge yang dibagi menjadi empat tahap, di antaranya inisiasi (konektivitas), implementasi (produktivitas), hilirisasi (impact), dan standardisasi.

Sumber:

Berita Terkait