Trump Desak China Ikut Amankan Pelayaran di Selat Hormuz

Trump Desak China Ikut Amankan Pelayaran di Selat Hormuz

Seorang Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha selama transit di Selat Hormuz, Laut Arab di lepas pantai Oman, dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada Kamis (18/7/2019). --ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa

RADAR JABAR - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menilai bahwa China seharusnya turut berkontribusi dalam upaya memulihkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang saat ini terganggu akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Dalam sebuah wawancara dengan Financial Times, Trump menyatakan bahwa China memiliki kepentingan besar terhadap jalur pelayaran tersebut karena sebagian besar kebutuhan minyaknya melewati selat tersebut. Menurutnya, sekitar 90 persen impor minyak China dikirim melalui Selat Hormuz, sehingga Beijing seharusnya ikut terlibat dalam menjaga keamanan jalur tersebut.

"Saya pikir China harus membantu juga, karena China mendapat 90 persen dari minyaknya melalui selat ini," ujar Trump.

Selain China, Trump juga sempat meminta beberapa negara lain untuk berpartisipasi dalam pengamanan kawasan tersebut. Negara-negara seperti Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris disebutnya sebagai pihak yang diharapkan dapat mengirim kapal perang guna membantu menjaga stabilitas pelayaran di Selat Hormuz.

BACA JUGA:Serangan Udara Pakistan di Kandahar Picu Ketegangan Baru dengan Afghanistan

BACA JUGA:Korea Utara Luncurkan 10 Rudal Balistik Saat AS dan Korea Selatan Gelar Latihan Militer Gabungan

Trump juga berharap pemerintah China dapat memberikan respons sebelum dirinya melakukan kunjungan resmi ke negara tersebut. Rencana perjalanan Trump ke China dijadwalkan berlangsung pada April mendatang, meskipun ia mengisyaratkan bahwa agenda tersebut masih berpotensi ditunda.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah pada 28 Februari lalu Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan gabungan ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban jiwa.

Sebagai balasan, Iran kemudian melancarkan serangan terhadap wilayah Israel serta beberapa pangkalan militer milik Amerika Serikat yang berada di berbagai negara Timur Tengah.

Rangkaian aksi militer tersebut memicu meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia. Situasi ini bahkan menyebabkan terjadinya blokade secara tidak resmi atau “de facto” di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas LPG dari negara-negara Teluk menuju pasar global.

Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di selat tersebut turut berdampak pada distribusi energi dunia. Selain menghambat pengiriman minyak dan gas, situasi tersebut juga memengaruhi tingkat produksi serta ekspor energi dari negara-negara di kawasan Teluk Persia.*

Sumber: