Khittah Pemuda Persis, menurut dia, menjadi garis perjuangan dakwah dan kaderisasi yang berasaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
“Khittah ini adalah jangkar yang menjaga kapal dakwah Pemuda Persis ini tetap stabil dalam mengarungi gelombang zaman hari ini,” ujarnya.
Tanpa khittah, dia khawatir gerakan Pemuda Persis kehilangan nilai dan ruh perjuangan serta berubah menjadi organisasi kepemudaan yang hanya mengejar popularitas.
Karena itu, masa depan jam'iyyah tidak bisa semata-mata mengandalkan warisan sejarah. Masa depan organisasi harus dirancang dan diperjuangkan bersama oleh kader.
“Masa depan jam'iyyah kita hari ini itu tidak diwariskan. Masa depan jam'iyyah Pemuda Persatuan Islam itu harus dirancang, harus diperjuangkan dalam kebersamaan,” kata Hilman.
Ia menegaskan kader Pemuda Persis harus mengambil peran sebagai arsitek peradaban. Kejayaan organisasi, kata dia, bukan sesuatu yang cukup dikenang dari masa lalu, melainkan harus kembali diperjuangkan melalui kerja generasi saat ini.
Hilman menegaskan Muskernas I tidak boleh berhenti pada kesepakatan normatif atau menghasilkan tumpukan program di atas kertas. Forum tersebut harus menjadi ruang untuk menerjemahkan khittah dan visi gerakan menjadi program nasional yang konkret.
“Muskernas ini adalah ruang untuk menghadirkan kembali, untuk menerjemahkan kembali khittah gerakan kita, untuk menerjemahkan kembali visi gerakan kita, sehingga kita membuat sebuah program nasional yang nyata, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,” tuturnya.