“Dulu mah cuma senang lihat burung pulang dari jauh,” katanya sambil tersenyum tipis.
Namun perjalanan di dunia merpati tak selalu mulus. Ia mengaku beberapa kali fakum dari arena lomba. Kesibukan pekerjaan membuat waktunya tersita. Belum lagi hobi lain yang sempat mengalihkan perhatian.
Pada 2016, ia mencoba kembali membangun tim. Perlahan, kandang mulai terisi lagi. Player-player baru didatangkan. Namun cobaan kembali datang. Hampir setahun ia berhenti setelah seluruh merpati peliharaannya hilang dicuri orang.
Peristiwa itu sempat membuatnya terpukul. Sebab bagi penghobi merpati, kehilangan burung bukan semata kehilangan barang berharga, melainkan hilangnya hasil kesabaran bertahun-tahun.
Tapi dunia merpati rupanya sudah terlalu melekat dalam hidupnya.
Ia bangkit lagi.
Dari nol, ia kembali membangun kandang dan mendatangkan player-player andalan. Satu demi satu burung mulai menunjukkan kualitasnya di lapangan. Nama Berdikari perlahan kembali terdengar di arena lomba. Burung-burungnya mulai sering naik podium, bersaing dengan tim-tim besar lain yang lebih dulu dikenal.
Tak hanya kuat di lomba, Tim Berdikari juga dikenal memiliki hasil ternakan yang diburu penghobi. Darah juara dari player miliknya dianggap mampu menurunkan kualitas terbang yang bagus kepada anakan-anakannya. Dari situlah nama kandangnya semakin diperhitungkan.