RADAR JABAR - Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, menegaskan komitmen negaranya dalam mendorong reformasi di tubuh Uni Eropa agar semakin banyak negara memiliki peluang untuk menjadi anggota. Pernyataan tersebut disampaikan Tusk pada Kamis usai pertemuannya dengan Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan.
Dalam keterangannya, Tusk menyebut Polandia selama ini konsisten menjadi pendukung perluasan Uni Eropa yang dilakukan secara bijaksana, hati-hati, dan pragmatis. Ia menekankan bahwa jika diperlukan, reformasi internal di Uni Eropa harus dilakukan agar blok tersebut dapat membuka jalan bagi lebih banyak negara dan masyarakat untuk merasakan manfaat kebebasan serta keamanan yang ditawarkan.
"Polandia selalu menjadi duta besar untuk perluasan Uni Eropa secara bijaksana, jika perlu, hati-hati, dan sangat pragmatis, serta, jika perlu, untuk mereformasi Uni Eropa sehingga lebih banyak negara dan orang dapat menikmati kebebasan dan keamanan," ujarnya.
Menurut Tusk, pendekatan tersebut tidak hanya soal ekspansi keanggotaan, tetapi juga memastikan bahwa struktur dan kebijakan Uni Eropa tetap relevan serta mampu menampung dinamika geopolitik yang terus berkembang. Ia menilai, reformasi menjadi langkah penting agar proses integrasi berjalan efektif tanpa mengorbankan stabilitas kawasan.
BACA JUGA:Rumah dan Kendaraan Warga Palestina Dibakar di Susya, Ketegangan di Tepi Barat Kian Meningkat
BACA JUGA:Profil El Mencho: Pemimpin Kartel CJNG yang Bertahun-tahun Jadi Buronan AS
Tusk juga menyoroti bahwa pandangan Polandia terkait perluasan Uni Eropa sejalan dengan kebijakan Armenia. Dalam pertemuan bilateral tersebut, ia menyampaikan kepada Pashinyan bahwa arah kebijakan luar negeri Armenia mendukung skenario yang membuka peluang integrasi lebih luas dengan Uni Eropa.
Hubungan antara Armenia dan Uni Eropa sendiri saat ini berlandaskan pada Perjanjian Kemitraan Komprehensif dan yang Diperkuat atau Comprehensive and Enhanced Partnership Agreement (CEPA) yang mulai berlaku pada 2021. Kesepakatan tersebut menjadi dasar kerja sama kedua pihak di berbagai sektor strategis.
Melalui CEPA, Armenia dan Uni Eropa membangun kolaborasi di bidang demokrasi, pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, serta reformasi hukum. Perjanjian itu juga mendorong penyelarasan regulasi dan standar Armenia dengan norma-norma Uni Eropa. Meski demikian, Armenia tetap mempertahankan posisinya sebagai anggota Uni Ekonomi Eurasia, sehingga menjaga keseimbangan hubungan ekonominya di kawasan.
Pemerintah di Yerevan telah beberapa kali menyatakan keinginan untuk mempererat hubungan dengan Uni Eropa. Namun demikian, otoritas Armenia menegaskan bahwa mereka tidak sedang dalam proses atau mempertimbangkan langkah resmi untuk mengajukan aksesi sebagai anggota penuh Uni Eropa.
Pernyataan Tusk ini mencerminkan dinamika baru di kawasan Eropa Timur dan Kaukasus, di mana isu integrasi regional dan perluasan Uni Eropa kembali menjadi perhatian di tengah perubahan lanskap politik dan keamanan global.*