Anak Investasi Kehidupan Bangsa, Umi Oded: Mari Kita Jaga dan Perhatikan

Jumat 22-07-2022,20:36 WIB
Reporter : Erwin Mintara
Editor : Arip Apandi

Radarjabar.disway.id, BANDUNG - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, Siti Muntamah mengatakan, peringatan Hari Anak Nasional merupakan momen paling penting di Indonesia bahkan di seluruh dunia.

"Kita tahu posisi dan kedudukan anak ini adalah anugerah dari Allah. Tugas kita adalah menjaganya. Sebagai orang dewasa dan semua orang dewasa adalah orang tua bagi anak," ucap Umi sapaan akrab Siti Muntamah kepada Jabar Ekspres, Jum'at (22/7).

Umi menjelaskan, Allah SWT. dalam Al-Quran berpesan bahwa orang tua dilarang meninggalkan anaknya dalam keadan lemah.

"Jadi, pesan dari peringatan hari anak adalah kita harus berusaha supaya anak kita menjadi anak yang kuat cerdas dan berkarakter yang berkualitas yang akan betul betul mengawal cita-cita luhur bangsa atau anak anak kita," jelasnya

"kita siapkan menjadi pemimpin dan pengelola sumber daya alam, sumber daya manusia yang ada," tambahnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan, saat ini Indonesia harus bangga. Sebab, bangsa ini berada dalam satu fase sejarah terpenting dalam kehidupan berbangsa yaitu hadirnya bonus demografi.

"Namanya bonus demografi itu hadirnya usia yang terpenting bagi bangsa ini, usia produktifnya lebih dominan, kuat-kuatnya sebuah bangsa, cerdas cerdasnya sebuah bangsa, ambisi ambisinya," lanjut Umi.

Menurutnya, jika bonus demografi dimanfaatkan, maka akan memiliki sebuah daya ungkit dan solusi bangsa. Ia pun menyakini, bahwa bangsa indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan maju.

"Untuk itu hari ini kita harus memiliki sebuah kemauan yang kuat di semua lini. Yang utama adalah setiap keluarga harus bercita-cita mengantarkan putra dan putrinya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas membanggakan sekaligus kita siapkan mereka menjadi pemimpin masa depan," cetusnya.

Umi menjelaskan, hal itu bukan sekedar teori. Karena, orang tua harus berbenah setiap hari. Pertama perhatikan persoalan stunting.

"Masa, sih, Indonesia kekurangan gizi. (Padahal) protein banyak, ikan banyak, sayuran banyak ini budidaya ikan yang ada di rumah bisa menghasilkan ikan. Kita bisa makan ikan itu dua hari sekali atau sehari satu atau telur itu sehari satu. Apa, sih, yang menjadi persoalan?" ungkapnya keheranan.

Saat dipelajari, kata dia, ternyata persoalannya adalah pola asuh dan literasi gizi yang dimiliki oleh orang tua sangat kurang atau pemberian makanan bayi dan anak belum memiliki ukuran yang tepat secara literasi gizi.

"Ini tidak diajarin: cara makan protein. Kita lebih senang makanan-makanan instan, mpasi aja ngambilnya dari instan padahal mpasi itu sangat sederhana untuk itu pola asuh dan literasi keluarganya harus dinaikkan," tegasnya.

Bukan hanya literasi gizi saja, sambung dia, tetapi akses air bersih kemudian sanitasi dan pola asuh, pola asuh ini adalah salah satunya pemberian ASI dan menyusui kan sekarang ada pemberian asi tapi tidak menyusui.

"Ini memberikan ASI dan menyusui anak-anak kita pasti sehat anak ASI itu adalah sel-sel darah hidup yang dititipkan Allah kepada ibu untuk diberikan kepada anak untuk memenuhi ruang ruang kebutuhan pertumbuhan otak anak, tumbuh kembang imunitas anak dan kekebalan tubuh anak," sambung dia.

Kategori :