JUMAT KELILING KDS: Dari Sajadah Menyapa Rakyat dan Muliakan Yatim

JUMAT KELILING KDS: Dari Sajadah Menyapa Rakyat dan Muliakan Yatim

--

Oleh: Toto Izul Fatah

(Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA)

 

RADAR JABAR - Ada banyak cara bagi seorang kepala daerah untuk mendekatkan diri kepada rakyatnya. Ada yang memilih pertemuan resmi di kantor pemerintahan, ada yang mengandalkan laporan birokrasi, dan ada pula yang turun langsung menyapa masyarakat. 

Bupati Bandung Dadang Supriatna memilih salah satu jalan yang sederhana, tetapi sarat makna. Yaitu,  shalat Jumat keliling atau Jumling.

Bagi Bupati yang akrab disapa Kang Dadang Supriatna atau KDS itu, Jumling bukan sekadar agenda seremoni pemerintah daerah. Selain menyapa rakyat, KDS juga kerap melakukannya dengan memberi santunan kepada anak-anak yatim.

Kegiatan seperti itu sebenarnya bukan baru bagi KDS. jauh sebelum ia menjabat Bupati Bandung, tepatnya saat menjadi kepala desa, kegiatan serupa kerap dilakukannya. 

Hal ini dilakukan KDS sebagai bagian dari cara dan gaya dalam memujudkan kepemimpinan yang selalu  hadir, mendengar, dan tidak menciptakan jarak terlalu lebar dengan rakyat.

Shalat Jumat Keliling tentu memiliki dimensi ibadah. 

Namun, di tangan seorang kepala daerah, kegiatan tersebut sekaligus dapat menjadi sarana komunikasi sosial dan pemerintahan.

Selepas melaksanakan shalat berjamaah, KDS dapat bertemu langsung dengan warga, tokoh agama, pengurus masjid, aparat desa, pemuda, serta kelompok masyarakat lainnya. 

Dalam suasana yang relatif cair itu, masyarakat bisa menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Mulai dari jalan rusak, pelayanan kesehatan, pendidikan, pengangguran, pertanian, bantuan sosial, hingga persoalan lingkungan.

Kadang-kadang keluhan rakyat tidak pernah sampai ke meja bupati karena berhenti di tengah panjangnya jalur birokrasi. Jumling dapat memperpendek jarak tersebut. Bupati tidak hanya menerima laporan dari bawahannya, tetapi juga mendengarkan suara rakyat secara langsung.

Di sinilah pentingnya seorang pemimpin turun ke lapangan. Data dan laporan birokrasi tetap diperlukan, tetapi wajah, suara, dan pengalaman nyata masyarakat sering kali memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai keadaan suatu daerah.

Sumber: