Dorong Budaya Baca, Safari Literasi Sumedang Libatkan Kolaborasi Pentahelix
FOTO BERSAMA: Kepala Dispusipda Jawa Barat Kusmana Hartadji, Bunda Literasi Kabupaten Sumedang Susi Gantini, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sumedang Hari Tri Santosa serah terima piagam literasi saat kegiatan Safari Literasi bertema Membang--
RADAR JABAR - Penguatan budaya literasi di era digital membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Tidak hanya perpustakaan dan sekolah, tetapi juga pemerintah, keluarga, komunitas, dunia usaha, akademisi, hingga media perlu bergerak bersama membangun generasi yang cerdas, kritis, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.
Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan Safari Literasi bertema Membangun Literasi Melalui Integritas dan Kolaborasi Pemerintah dan Pegiat Literasi yang digelar di Kabupaten Sumedang, Kamis (25/6).
Kepala Dispusipda Jawa Barat Kusmana Hartadji menjelaskan, Safari Literasi merupakan gerakan kolaboratif yang melibatkan unsur pentahelix, yakni pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media dalam upaya meningkatkan budaya literasi masyarakat.
Menurutnya, Kabupaten Sumedang dipilih sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan karena dinilai memiliki komitmen kuat dalam pengembangan literasi.
BACA JUGA:NasDem Minta Transisi BPR Transparan, Proyek Rp477 Miliar dan Raperda Sampah Dikawal Ketat
BACA JUGA:Transparansi Dana Desa, KDM dan Prof Reda Perkuat Program Jaga Desa
“Sumedang dipilih karena dukungan pemerintah daerahnya sangat antusias dalam mengembangkan literasi. Literasi itu bukan hanya membaca, tetapi juga mencakup berhitung, budaya, kewargaan, dan berbagai aspek lainnya,” ujar Kusmana.
Ia menambahkan, literasi saat ini harus dimaknai lebih luas sebagai kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, serta menyaring berbagai informasi yang beredar melalui platform digital.
Melalui Safari Literasi, Dispusipda Jawa Barat menargetkan peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM). Berbagai inovasi pun terus didorong, termasuk pengembangan pojok baca di ruang publik yang tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga menjadi ruang diskusi, bercerita, dan aktivitas edukatif lainnya.
Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Sumedang Susi Gantini menekankan pentingnya literasi digital sebagai salah satu upaya mencegah berbagai persoalan sosial yang mengancam anak-anak, termasuk kekerasan seksual dan paparan konten negatif di internet.
BACA JUGA:Pemkab Bandung Perkuat Landasan Hukum Layanan Kesehatan yang Berkualitas dan Merata
Menurutnya, perkembangan teknologi menghadirkan manfaat sekaligus tantangan yang harus dihadapi bersama oleh keluarga, sekolah, dan masyarakat.
“Kekerasan anak di Sumedang lumayan tinggi, termasuk kekerasan seksual juga. Maka dalam kesempatan kegiatan ini, anak-anak dididik untuk bijak menggunakan gadget, salah satunya dengan menyaring informasi-informasi yang negatif,” kata Susi.
Ia menilai peran orang tua sangat penting dalam mendampingi anak saat menggunakan gawai. Literasi, lanjutnya, tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga kemampuan berpikir kritis, memahami konteks informasi, serta mengevaluasi kebenaran berbagai informasi yang diterima dari media digital.
Sumber: