Rusia Tuduh Jerman Bersiap Hadapi Konflik Militer di Masa Depan

Rusia Tuduh Jerman Bersiap Hadapi Konflik Militer di Masa Depan

Bendera Jerman, NATO, dan Uni Eropa dikibarkan di depan Kantor Kanselir saat Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bertemu Kanselir Jerman Friedrich Merz di Berlin, pada 9 Juli 2025. --ANTARA/Halil Sağırkaya/Anadolu/pri.

RADAR JABAR - Duta Besar Rusia untuk Jerman, Sergey Nechaev, menyatakan bahwa Jerman telah menunjukkan arah kebijakan yang mengarah pada persiapan kemungkinan konfrontasi militer dengan Rusia dalam beberapa tahun mendatang. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan media Rusia, RIA Novosti.

Menurut Nechaev, pemerintah di Berlin saat ini активно mendukung Ukraina dengan memasok drone, komponen teknologi, serta berbagai jenis persenjataan lainnya kepada pemerintah Kiev. Meski demikian, Jerman tetap membantah bahwa mereka terlibat langsung dalam konflik yang sedang berlangsung.

Ia menegaskan bahwa tidak seharusnya ada anggapan keliru terkait sikap Jerman. Secara doktrinal, negara tersebut disebut telah menyiapkan langkah menuju potensi konflik militer dengan Rusia, dan hal itu tidak ditutup-tutupi.

Meski publik Jerman disebut tidak sepenuhnya mendukung arah kebijakan tersebut, suara mereka dinilai kalah oleh kuatnya narasi militeristik yang didorong oleh pemerintah, militer, industri pertahanan, serta media arus utama.

BACA JUGA:Jaringan Kriminal Rekrut Anak Lewat Media Sosial, Europol Tangkap 280 Pelaku

BACA JUGA:AS Prioritaskan Iran, Perundingan Damai Rusia-Ukraina Terabaikan

Di sisi lain, Rusia menilai bahwa pengiriman senjata ke Ukraina justru memperumit upaya penyelesaian konflik. Moskow juga menuding keterlibatan negara-negara anggota NATO semakin nyata melalui dukungan militer tersebut.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menegaskan bahwa setiap pengiriman senjata menuju Ukraina akan dianggap sebagai target sah oleh Rusia.

Sementara itu, pihak Kremlin juga menyampaikan bahwa bantuan militer dari negara-negara Barat hanya akan menghambat proses negosiasi damai dan memperpanjang konflik yang terjadi.*

Sumber: