Mengenal 6 Jenis Angklung Jawa Barat yang Masuk WBTb Indonesia
Foto ilustrasi jenis angklung Jawa Barat yang masuk WBTb Indonesia.--Humas Pemkot Bandung.
RADAR JABAR DISWAY - Baca artikel ini sampai tuntas kalau kamu mau tahu enam jenis angklung Jawa Barat yang masuk WBTb Indonesia.
Angklung ada jenisnya? Bagi yang tidak pernah baca sebelumnya, mungkin berpikir jenis angklung ya hanya satu, padahal banyak.
Bukan cuma terkenal di Jawa Barat, angklung merupakan satu di antara sekian banyak alat musik tradisional Indonesia yang popularitasnya dikenal luas.
Hal jarang diketahui lainnya yaitu salah satu warisan budaya dari leluhur yang khas dan unik itu juga sebenarnya banyak jenisnya.
Bahkan ada hingga enam jenis angklung yang masuk dalam kategori Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTb Indonesia).
BACA JUGA:Nenek 83 Tahun Berkompetisi di Pasanggiri Angklung AHM
BACA JUGA:Kementerian Kebudayaan RI Berencana Beri Seragam kepada Musisi Jalanan
Prestasi tersebut kian menambah nilai alat musik asal Jawa Barat yang terbuat dari talung bambu ini.
Sejak 16 November 2010, angklung sudah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia dalam pertemuan Fifth Session of the Intergovernmental Committee di Nairobi, Kenya.
Selain itu, tanggal 16 November juga diperingati sebagai Hari Angklung Sedunia atau World Angklung Day sejak penobatan tersebut sebagai pengakuan atas warisan budaya Indonesia yang tidak ternilai.
Nah biar pengetahuan kamu tentang angklung bertambah, berikut daftar beberapa angklung Jabar yang masuk WBTb Indonesia seperti dikutip dari Instagram resmi @humas_jabar.
6 Jenis Angklung Jabar dalam WBTb Indonesia
1. Angklung Padaeng (Kabupaten Kuningan)
Berasal dari Kabupaten Kuningan, Angklung Padaeng dikembangkan oleh Daeng Soetigna pada 1938. Ciri khas angklung ini ialah memiliki tangga nada diatonic-kromatis, serta bentuknya lebih ramping, modern, dengan nada dasar C.
2. Angklung Dodog Lojor
Angklung Dodog Lojor identik dengan upacara adat. Alat musik ini terdiri dari empat angklung besar dan dua dogdog lojor (kendang panjang).
Ciri khas lainnya yaitu menghadirkan perpaduan angklung berukuran besar dengan tabuhan dogdog lojor. Selain itu Angklung Dodog Lojor tidak ikut nada Do-Re-Mi konvensional, melainkan nada don-diantonis.
BACA JUGA:Menteri Kebudayaan Sebut Musisi Jalanan Bisa Tampil di Bandara hingga Pelabuhan
BACA JUGA:Kebersamaan di Tengah Keberagaman, 23 Etnis Budaya di Cimahi Semarakan Sangkuriang Festival
3. Angklung Bungko (Cirebon)
Angklung identik dengan upacara adat lainnya ada Angklung Bungko yang berasal dari Cirebon. Ki Buyut Bungko mengembangkan alat musik ini pada abad 14/17.
Ciri khasnya bukan hanya sakral, disimpan khusus, dan dihiasi rajutan kain. Melainkan juga memiliki alat musik pengiring serta lima tarian pokok.
4. Angklung Gubrag (Bogor)
Angklung Gubrag berasal dari Bogor dan dikenal sebagai instrumen untuk proses ritual penghormatan Dewi Sri/Nyi Pohaci. Usianya sudah sangat tua, sudah dikembangkan lebih dari 455 tahun silam.
Pertama ciri khas Angklung Gubrag yaitu menyediakan tiga nada dalam satu rangka, lalu terdapat hiasan khas kembang biru. Angklung ini juga dimainkan dengan enam bilah angklung yang berbeda.
5. Angklung Buncis (Bogor)
Masih di Kota Bogor, ada angklung bernama unik, Angklung Buncis, yang berakar dari budaya agraris. Alat musik ini dikembangkan sebelum tahun 1940 di daerah Baduy, Cigugur Kuningan, Baros Arjasari.
Angklung Buncis semula digunakan untuk ritual penghormatan, namun kemudian berubah jadi untuk pertunjukan hiburan. Angklung tersebut terdiri dari 3-4 bambu yang menghasilkan nada pentatonic.
Sebagai ciri khas lainnya, bagian atas Angklung Buncis dililit oleh ijuk dan membentuk separuh lingkaran.
6. Angklung Sered (Tasikmalaya)
Jenis angklung Jabar dalam WBTb Indonesia terakhir, Angklung Sered, berasal dari Tasikmalaya. Sebelum bergeser menjadi seni pertunjukan, angklung yang dikembangkan tahun 1908 ini sempat digunakan sebagai kode peringatan kedatangan penjajah.
Nada yang dimainkan progresif juga jadi salah satu ciri khasnya. Seringkali Angklung Sered berpadu dengan gerakan pencak silat dan unsur magis.
Jumlah pemainnya 11 orang, terdiri dari satu pemain kereuleuk, delapan pemain engklok, serta dua pemain indung.
Sumber: