Jerman Siap Terlibat Amankan Selat Hormuz Usai Gencatan Senjata AS-Iran

Jerman Siap Terlibat Amankan Selat Hormuz Usai Gencatan Senjata AS-Iran

Unit-unit angkatan laut Iran dan Rusia melakukan simulasi penyelamatan kapal yang dibajak selama latihan gabungan di Pelabuhan Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz, Hormozgan, Iran, Kamis (19/2/2026).--ANTARA/HO-Iranian Navy/Joint Military Exercise/pri

RADAR JABAR - Kanselir Friedrich Merz menyatakan bahwa Jerman membuka peluang untuk berkontribusi secara militer dalam menjaga keamanan Selat Hormuz, menyusul tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan Merz dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Irlandia, Micheal Martin, setelah pertemuan di Berlin. Ia menegaskan pentingnya pendekatan diplomatik untuk menjaga stabilitas kawasan dan melanjutkan proses negosiasi.

Menurut Merz, perdamaian jangka panjang di kawasan hanya dapat dicapai melalui kesepakatan diplomatik yang kuat. Ia juga menekankan bahwa program nuklir militer Iran harus dihentikan dan negara tersebut tidak boleh memiliki senjata nuklir.

"Kami sepakat bahwa tidak akan ada perdamaian abadi di kawasan ini tanpa solusi diplomatik. Ini membutuhkan kesepakatan yang layak dan kuat. Dalam konteks ini, harus jelas bahwa program nuklir militer Iran harus dihentikan. Iran tidak boleh memperoleh bom nuklir," katanya.

BACA JUGA:Polandia Tegas Tolak Aksesi Cepat Ukraina ke Uni Eropa

BACA JUGA:Iran Siapkan Aturan Khusus Pelayaran di Selat Hormuz di Tengah Ketegangan dengan AS

Terkait pertemuan yang akan digelar di Paris dan diprakarsai oleh Emmanuel Macron serta Keir Starmer, Merz menyebut Jerman siap berpartisipasi dalam pengamanan jalur pelayaran internasional, dengan syarat kondisi hukum dan politik terpenuhi.

"Pada prinsipnya, kami siap untuk berpartisipasi dalam mengamankan jalur transit. Ini membutuhkan penghentian permusuhan. Setidaknya, dibutuhkan gencatan senjata sementara," ujarnya kepada wartawan.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan tersebut bergantung pada situasi di lapangan, termasuk adanya penghentian konflik atau setidaknya gencatan senjata sementara.

"Kita masih jauh dari itu," tegas Merz.

Selain itu, partisipasi militer Jerman juga harus memiliki dasar hukum internasional, idealnya melalui mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta persetujuan dari parlemen domestik.

Meski demikian, Merz menilai bahwa realisasi langkah tersebut masih cukup jauh. Ia juga enggan menanggapi laporan mengenai kesiapan angkatan laut Jerman dalam menyiapkan kapal penyapu ranjau, dan menyebut detail lebih lanjut akan dibahas dalam pertemuan di Paris.*

Sumber: