Mengenal 7 Jenis Tantrum pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Mengenal 7 Jenis Tantrum pada Anak yang Perlu Diwaspadai

Ilustrasi Jenis Tantrum pada Anak yang Perlu Diwaspadai--shuttershock

Radar Jabar - Tantrum merupakan salah satu hal yang umum terjadi pada anak-anak. Ini adalah cara anak mengekspresikan ketidakpuasan atau frustrasi mereka ketika tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan atau ketika mereka merasa tidak terdengar. Meskipun Tantrum seringkali merupakan bagian dari perkembangan normal, ada beberapa jenis Tantrum yang perlu diwaspadai karena dapat mengindikasikan masalah yang lebih dalam atau gangguan perilaku. Berikut adalah 7 jenis Tantrum pada anak yang perlu Anda ketahui:

1. Tantrum Agresif

Tantrum agresif adalah jenis tantrum di mana anak menunjukkan perilaku agresif secara fisik, seperti memukul, menggigit, atau melempar benda-benda di sekitarnya. Tantrum ini bisa menjadi tanda bahwa anak mengalami kesulitan dalam mengatur emosi atau mungkin telah belajar bahwa perilaku agresif adalah cara untuk mendapatkan perhatian atau apa yang mereka inginkan.

BACA JUGA: Tips dan Strategi Efektif Menghadapi Anak yang Sedang Melakukan Tantrum

2. Tantrum Manipulatif

Tantrum manipulatif terjadi ketika anak menggunakan perilaku tantrum sebagai alat untuk memanipulasi orang dewasa atau orang lain di sekitarnya. Mereka mungkin menangis atau berteriak secara berlebihan untuk mendapatkan perhatian atau mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tantrum ini bisa menjadi tanda bahwa anak telah belajar bahwa perilaku ini efektif untuk memenuhi keinginannya.

3. Tantrum Perhatian

Tantrum perhatian terjadi ketika anak sengaja melakukan perilaku tantrum untuk mendapatkan perhatian dari orang dewasa di sekitarnya. Mereka mungkin merasa tidak terdengar atau tidak dipahami, dan tantrum menjadi cara untuk menarik perhatian orang dewasa. Tantrum ini bisa menjadi tanda bahwa anak merasa kesepian atau tidak mendapatkan cukup perhatian dari lingkungan mereka.

4. Tantrum Kelelahan

Tantrum kelelahan terjadi ketika anak menjadi sangat lelah dan kelelahan, yang membuat mereka sulit untuk mengatur emosi mereka. Tantrum ini seringkali terjadi di akhir hari atau saat anak merasa sangat lelah setelah aktivitas yang intens. Menyediakan waktu istirahat yang cukup dan menjaga rutinitas tidur yang konsisten dapat membantu mencegah tantrum ini.

5. Tantrum Sensorik

Tantrum sensorik terjadi ketika anak merasa tidak nyaman dengan stimulus sensorik tertentu, seperti suara yang keras atau sentuhan yang kasar. Mereka mungkin bereaksi secara berlebihan terhadap stimulus tersebut dengan melakukan perilaku tantrum. Mengetahui sensitivitas sensorik anak dan mencoba untuk menghindari stimulus yang memicu tantrum dapat membantu mengurangi frekuensi tantrum ini.

6. Tantrum Kecemasan

Tantrum kecemasan terjadi ketika anak merasa cemas atau takut akan sesuatu, dan tantrum menjadi cara untuk mengekspresikan ketidaknyamanan mereka. Tantrum ini bisa menjadi tanda bahwa anak mengalami kecemasan yang mendalam terhadap situasi atau perubahan dalam kehidupan mereka. Mendengarkan dengan empati dan memberikan dukungan yang tepat dapat membantu anak mengatasi kecemasan mereka dengan lebih baik.

BACA JUGA:5 Tips Jitu Agar Pagi Hari Kamu Tetap Semangat

7. Tantrum Kemarahan

Tantrum kemarahan terjadi ketika anak merasa marah atau frustasi karena tidak bisa mengontrol situasi atau mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tantrum ini seringkali disertai dengan perilaku yang keras dan agresif, seperti memukul atau merusak benda di sekitarnya. Mengajari anak strategi pengelolaan emosi dan memberikan pemahaman tentang cara mengatasi kemarahan dapat membantu mengurangi frekuensi tantrum ini.

Dalam menghadapi tantrum anak, penting untuk tetap tenang dan bersikap sabar. Cobalah untuk memahami penyebab tantrum tersebut dan memberikan dukungan yang sesuai kepada anak. Jika tantrum terus berlanjut atau menjadi semakin sering, penting untuk berkonsultasi dengan ahli psikologi atau kesehatan mental untuk mendapatkan bantuan dan saran yang tepat.

Mengenal jenis-jenis tantrum pada anak dapat membantu orang tua atau pengasuh untuk lebih memahami dan mengatasi tantangan dalam mengasuh anak dengan lebih efektif. Dengan memberikan perhatian dan dukungan yang tepat, kita dapat membantu anak mengembangkan keterampilan pengaturan emosi yang lebih baik dan tumbuh menjadi individu yang lebih seimbang dan bahagia.

Sumber: