Rusia Diklaim Gagal Bayar Utang Luar Negeri, Pertama Kali Sejak 1998

Rusia Diklaim Gagal Bayar Utang Luar Negeri, Pertama Kali Sejak 1998

--

Rusia pertama kalinya di duga gagal dalam membayar utang luar negeri. Pihak tata ekonomi Moskow di nilai tengah berdarah akibat sanksi yang di berlakukan negara Barat sebagai tanggapan invasi ke Ukraina.

Dalam The Independent, Moskow menghadapi tenggat waktu pada Minggu, 17 Juni lalu. Yakni untuk melunasi bunga sekitar US$ 100 juta atau Rp 1,4 triliun. Semula, jatuh tempo tersebut jatuh pada 27 Mei, namun jangka waktu berakhir tanpa pembayaran.

Rusia sebelumnya pernah gagal membayar utang domestik pada 1998. Sementara setelah Revolusi Bolshevik 1917, Moskow gagal lunasi utang internasional.

Di perkirakan, Rusia berutang sekitar US$ 40 miliar atau setara Rp 591 triliun dalam bentuk obligasi asing. Namun pejabat Rusia membantah laporan default tersebut. Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov pada Kamis, 23 Juni lalu mengatakan siapa pun dapat mengatakan apa pun.

Kremlin pun menolak klaim tersebut pada Senin, 27 Juni lalu. Dalam panggilan telepon wartawan, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan, Rusia membayar obligasi pada Mei. Tetapi, muncul dugaan jika pembayaran tersebut di blokir oleh Euroclear karena sanksi Barat terhadap Rusia.

Lembaga pemeringkat Standard & Poor's dan Moody's mengkategorikan utang Rusia ke dalam wilayah sampah. Gejolak di pasar Rusia berlanjut ketika Rubel tercatat turun sekitar 40 persen terhadap USD.

Setelah lebih dari 120 hari perang, cadangan devisa bank sentral Rusia tetap di bekukan serta bank top di keluarkan dari sistem keuangan global.

Sanksi tersebut telah merusak ekonomi Rusia dan mendorong perusahaan asing keluar dari pasar Rusia. Para ahli memperingatkan bahwa konfirmasi default dapat sebabkan isolasi lebih lanjut. Dan gangguan Moskow dari sistem pembayaran internasional.

Sumber: