Informasi tersebut disampaikan oleh lembaga penyiaran milik pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting.
Menurut Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, proposal itu akan menjadi dasar dalam perundingan guna mencapai kesepakatan yang lebih komprehensif. Meski demikian, rincian lengkap dari seluruh isi proposal tersebut belum diungkapkan ke publik.
Dikutip dari laman antara berdasarkan laporan yang beredar, proposal tersebut mencakup sejumlah poin penting, seperti jaminan tidak adanya serangan terhadap Iran, tetap berjalannya kontrol Teheran atas Selat Hormuz, serta pengakuan hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium.
BACA JUGA:Trump Usul AS Pungut Biaya Kapal di Selat Hormuz, Bukan Iran
Selain itu, Iran juga mengajukan pencabutan seluruh sanksi utama dan sekunder yang selama ini diberlakukan oleh AS.
Tidak hanya itu, proposal tersebut juga memuat penghentian resolusi dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional terhadap Iran.
Poin lainnya meliputi pembayaran kompensasi, penarikan pasukan tempur AS dari kawasan, serta penghentian konflik di berbagai wilayah, termasuk di Lebanon.
Pihak dewan menegaskan bahwa proses negosiasi ini tidak serta-merta menandakan berakhirnya perang. Kesepakatan final nantinya tetap bergantung pada terpenuhinya seluruh persyaratan yang diajukan Iran serta pembahasan detail dalam proses perundingan.
Selama masa negosiasi berlangsung, keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz disebut akan tetap dijamin melalui koordinasi dengan militer Iran.
Rencana perundingan dijadwalkan dimulai pada Jumat (10/4) di Islamabad dengan mediasi dari Pakistan. Proses ini diperkirakan berlangsung selama dua pekan dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan kedua pihak.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington akan menunda serangan terhadap Iran selama dua minggu. Ia juga menilai proposal dari Teheran tersebut sebagai dasar yang cukup layak untuk memulai proses negosiasi.