ROOTS Film Dokumenter Fiksi Tentang Walter Spies dan Bali hadir di Bandung, Jakarta dan Bogor

ROOTS Film Dokumenter Fiksi Tentang Walter Spies dan Bali hadir di Bandung, Jakarta dan Bogor

Suasana pemutaran dan diskusi Film Roots One Hundred Years Walter Spies in Bali di Nu Art Sculpture Park Bandung (31/7) . Foto Slamet Melda/istimewa--

RADAR JABAR - Film Roots – One Hundred Years Walter Spies in Bali akhirnya berlabuh ke Bandung. Film dokumenter fiksi karya sutradara Michael Schindhelm, sejak awal memang akan dikelilingkan ke Pulau Jawa setelah diputar keliling Bali . Program yang dirancang untuk memperluas apresisasi perjalanan sejarah seni dan perkembangan Bali, mendapat sambutan hangat di tiga venue pemutaran di Bandung.

Setidaknya ada tiga venue selama pemutaran di Bandung yaitu Humanika Art Space, Orbital Dago dan Nu Art Sculpture Park. Film yang menyampaikan bagaimana kisah hidup seniman kelahiran Moskow yang berkebangsaan Jerman dipertemukan dengan perkembangan Bali dalam kurun waktu seratus tahun dengan pandangan ingin membawa kenangan sekaligus mengkritisi kemajuan Bali dengan akibat yang terjadi.

Yudha Bantono selaku pemegang hak pemutaran Film Roots di Indonesia mengatakan bahwa melalui film Roots ingin mengajak pemirsa untuk menelusuri jejak hidup Walter Spies sejak kedatangan pertamanya di Bali pada 1925 hingga warisannya yang kompleks pada era modern sekarang ini.

Lebih lanjut menurut Yudha film ini menggabungkan elemen dokumenter dan fiksi untuk menggali peran Spies sebagai katalisator kreatif sekaligus figur kontroversial, menampilkan arsip, rekonstruksi, dan wawancara dengan tokoh akademisi seni, budayawan, seniman, LSM dan penggerak kepedulian lingkungan hidup.

“Film Roots tidak hanya menyorot kontribusi artistik Spies dari pelestarian tari hingga estetika visual, tetapi juga membuka diskursus tentang dinamika kuasa budaya, kolonialisme, dan dampak pariwisata,” tambah Yudha.

Sementara Andang Iskandar sebagai pendiri Humanika art space mengatakan melalui film Roots pemirsa diajak untuk mengenal Walter Spies dan peranannya bagi perkembangan seni di Bali, sekaligus mengajak kita belajar dari sosoknya yang sangat menginspirasi. 

“Melalui kisah Walter Spies kita juga banyak belajar tentang bagaimana membangun ruang dialog imajiner dalam melihat Bali di masa lalu, sekarang dan masa depan. Film ini sangat menarik bukan saja gagasan yang dihadirkan, tapi kita benar-benar mengajak kita untuk melihat apa yang terjadi di sekitar kita, dan apa yang harus kita perbuat untuk masa depan yang lebih baik dari segala perubahan yang terjadi," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Rifky Effendy kurator sekaligus host di Orbital Dago, bahwa masuknya film ini sangat menarik, dimana dimulai dari tragedi kehidupan Walter Spies dan posisinya sebagai seniman, kemudian melihat perubahan Bali dari kemajuannya, termasuk industri pariwisata dan akibatnya. Film Roots mengingatkan siapa saja yang menonton film ini, khususnya seniman untuk tergerak hatinya berbuat yang lebih baik untuk masa depan Bali maupun negeri ini.

Nyoman Nuarta maestro seniman patung Indonesia dan pemilik Nu Art Sculpture Park turut memberikan sambutan sebelum pemutaran di gedung sinema Nu Art. Menurut pematung yang maha karyanya sangat terkenal seperti GWK dan IKN, mengatakan bahwa Walter Spies sangat memberikan andil besar bagi perkembangan seni di Indonesia khususnya di Bali. Publik tidak boleh melupakan sosok Walter Spies dalam perkembangan seni di tanah air, dan bagaimana pula ia turut mempopulerkan Bali untuk dikenal dunia.

Nuarta sangat mengapresiasi film Roots yang telah di bawa ke Nu Art, sehingga ruang apresiasi seni semakin diperkaya melalui ruang dialog secara berkelanjutan, khususnya melihat perkembangan Bali dalam berbagai hal.

Seniman Bali Gus Dark yang dihadirkan dalam mendukung program pemutaran film dan diskusi semakin melengkapi narasi yang ingin disampaikan melalui tiga pemutaran film di Bandung. Gus Dark sendiri adalah seniman bagian dari pelaku di film Roots dan sosok yang terlibat dalam pameran seni rupa Roots yang telah di pamerkan di KBH.G Basel Swiss dan ARMA Museum Ubud Bali.

“Saya memberikan apresiasi kepada tiga venue dan publik yang telah hadir dan turut serta memberikan respon tentang isi film Roots, kami ingin membangun jejaring dengan seniman di Bandung untuk bersama-sama saling mendukung dalam membuat masa depan Bali dan negeri ini yang lebih baik,” ujar Gus Dark melalui jalur seni.

Setelah dari Bandung, pemutaran Film Roots selanjutnya akan dilanjutkan pemutarannya di tujuh tempat, yakni lima tempat di Jakarta dan dua tempat di Bogor. Untuk pemutaran di Jakarta akan dilaksanakan mulai tanggal 1 Agustus 2026 di awali di Getback Parlour, kemudian dilanjutkan ke Taman Ismail Marzuki (TIM), Contemporary Art Gallery TMII, Galery Zen dan ditutup di Galeri Cemara 6-Toeti Heraty Museum. Sedangkan untuk wilayah Bogor akan diputar di Hutan Rimba dan Langgar Aksara Nusantara.

Sumber: