APRINDO Dorong UMKM Manfaatkan AI dan E-Commerce untuk Naik Kelas

Sabtu 07-11-2026,19:30 WIB
Reporter : Eriek Taopik
Editor : Eriek Taopik

RADAR JABAR – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perlu mulai memanfaatkan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan e-commerce, untuk memperluas pasar serta meningkatkan daya saing bisnis. Penguasaan teknologi kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan agar UMKM mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen dan perkembangan industri ritel.

Pesan tersebut mengemuka dalam hari kedua workshop dan seminar UMKM yang diselenggarakan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam rangkaian Hari Ritel Nasional (HRN) 2026 yang berkolaborasi dengan Bulan Mutu Nasional. Mengusung tema "UMKM dalam Strategi Transformasi Bisnis", kegiatan berlangsung secara hybrid di Union Square, Cihampelas Walk, Bandung, Sabtu (7/11/2026).

Dalam forum ini, APRINDO menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman di bidang teknologi digital dan perdagangan elektronik, yakni E. Alex Chandra, Wakil Ketua Umum MSMEs & Strategic Affairs Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), serta Hilman Yoswandi dari Google Cloud Indonesia.

Alex Chandra menekankan bahwa transformasi digital UMKM harus dilakukan secara bertahap. Ia memperkenalkan empat fase penting yang perlu dilalui pelaku usaha, mulai dari Go Digital, Siap Pasar, Omnichannel, hingga Tumbuh Aman. 

Pada tahap Go Digital, pelaku UMKM didorong mulai menguasai keterampilan digital dasar, seperti membangun identitas merek (branding), membuat katalog produk, menyediakan pembayaran digital, hingga memanfaatkan AI untuk menghasilkan materi promosi yang lebih menarik. 

“Namun kemampuan memasarkan produk secara digital perlu diimbangi kesiapan operasional. Pada tahap Siap Pasar, UMKM harus memastikan konsistensi kualitas produk, kemasan yang informatif, kelengkapan sertifikasi dan legalitas, serta kesiapan rantai pasok dan standar operasional prosedur (SOP) produksi,” tuturnya. 

Setelah memiliki fondasi tersebut, pelaku usaha dapat mengembangkan strategi penjualan omnichannel, yakni memadukan penjualan melalui toko fisik, platform online, dan jaringan ritel modern. Sementara itu, fase Tumbuh Aman menekankan pentingnya perlindungan akun, keamanan data usaha, serta kewaspadaan terhadap risiko transaksi keuangan digital. 

“UMKM tidak cukup hanya hadir di platform digital. Mereka juga harus memiliki kesiapan produk, kapasitas produksi, dan tata kelola usaha agar mampu memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas. Ini penting dari tahapan transformasi,” tegas Alex. 

Sementara itu, Hilman Yoswandi memperkenalkan pemanfaatan ekosistem teknologi Google untuk membantu UMKM meningkatkan efisiensi dan mengembangkan bisnis. Ia menjelaskan bahwa transformasi digital dapat dimulai dari langkah sederhana yang dapat diterapkan secara bertahap, melalui konsep Tangga Digital UMKM. 

Salah satu langkah awal adalah memanfaatkan Google Business Profile agar lokasi dan informasi usaha lebih mudah ditemukan calon konsumen melalui Google Search dan Google Maps. 

“Kita mendorong pelaku UMKM memanfaatkan Gemini AI sebagai asisten digital dalam menjalankan aktivitas bisnis sehari-hari. Teknologi ini dapat membantu pemilik usaha menyusun materi promosi, membuat deskripsi produk, merespons ulasan pelanggan, hingga membantu menganalisis data penjualan,” tambahnya. 

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan aplikasi digital seperti Aksesmu yang dapat membantu pengelolaan stok dan pencatatan keuangan warung melalui telepon seluler. Berbagai solusi tersebut diharapkan dapat mempermudah pelaku usaha, termasuk pemilik warung tradisional, dalam mengelola bisnis secara lebih efisien.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Putri (45), salah satu pelaku UMKM asal Bandung yang menjalankan usaha mochi, mengaku memperoleh wawasan baru yang dapat langsung diterapkan dalam pengembangan bisnisnya. Salah satunya adalah bagaimana memanfaatkan teknologi untuk menyusun deskripsi produk yang lebih menarik sehingga dapat menjangkau konsumen baru. 

Ketua Panitia Hari Ritel Nasional 2026, FX Yudi Hartanto, mengatakan bahwa workshop dan seminar UMKM ini merupakan bagian dari komitmen APRINDO untuk mendorong pelaku usaha lokal agar mampu berkembang dan mengambil peran lebih besar dalam ekosistem perdagangan modern. 

Menurutnya, kolaborasi antara industri ritel, pelaku UMKM, asosiasi, dan penyedia teknologi menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat daya saing produk lokal sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. 

Kategori :