Kini, Khafidz menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional di Dalian University of Technology. Bagi dia, kehidupan di luar negeri menghadirkan pengalaman yang berbeda dibandingkan saat tinggal di pesantren. Jika dahulu ia terbiasa bangun tidur bersama teman-teman dan menjalani aktivitas ibadah secara berjamaah, kini ia harus membiasakan diri menjalani rutinitas secara mandiri.
Pengalaman tersebut sekaligus memperluas wawasannya. Ia berkesempatan menjalin pertemanan dengan mahasiswa dari berbagai negara, mempelajari pola kehidupan dan cara berpikir yang berbeda, serta mengikuti kegiatan pengembangan kemampuan di lingkungan kampus, termasuk klub yang berkaitan dengan robotika.
Bagi Khafidz, pengalaman belajar di luar negeri bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik, melainkan juga membangun kemandirian, memperluas jaringan, dan belajar menghargai perbedaan.
Ia berharap ilmu yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di China kelak dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Semangat serupa juga ditunjukkan Happy Aisyi Madina, penerima beasiswa santri Jawa Tengah yang kini menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Bagi Aisyi, kesempatan memperoleh beasiswa tersebut merupakan amanah besar sekaligus peluang berharga untuk melanjutkan pendidikan dan membantu meringankan beban finansial keluarganya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atas kesempatan yang telah diberikan kepadanya.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada seluruh pengurus Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren Jawa Tengah atas kesempatan yang sangat berharga dan amanah besar yang telah diberikan kepada saya,” ungkap Aisyi.
Tidak hanya ingin menyelesaikan pendidikan, Ia juga memiliki tekad untuk kembali mengabdikan diri di Jawa Tengah setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar.
Baginya, beasiswa tersebut dapat menjadi jalan untuk mengembangkan kapasitas diri sekaligus mempersiapkan pengabdian kepada masyarakat di masa mendatang.
Pada momentum Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026, Ia berpesan agar para santri di seluruh Indonesia tidak takut bermimpi besar dan berani mengambil kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
Ia meyakini, selama cita-cita yang diperjuangkan berada di jalan yang diridai Allah SWT, setiap usaha harus dijalani dengan keyakinan dan kesungguhan.
Terpisah, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengapresiasi peran santri yang ada di wilayahnya. Provinsi ini setidaknya memiliki 5.400 pondok pesantren dengan 555 ribu santri. Hal itu menurutnya merupakan modal sosial yang perlu terus diperkuat agar pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama tetapi juga melahirkan generasi yang mampu berkontribusi di berbagai bidang.
Sebagai bentuk apresiasi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa telah menginisiasi program Pesantren Obah. Melalui program tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memberikan beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren.
Pada 2026, disiapkan anggaran Rp6,8 miliar untuk pendidikan di dalam negeri dan luar negeri. Peminat program ini mencapai 942 pendaftar. Dari program tersebut, 15 santri dinyatakan lolos untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, Yaman, dan Tiongkok.
Beberapa hari lalu sebanyak 424 santri yang kuliah di Ma'had Aly juga diberikan beasiswa. Beasiswa juga diberikan kepada santri penggerak, yaitu santri yang aktif di organisasi intra dan ekstra kampus serta masih tinggal di pesantren.