Sedangkan kepercayaan lahir ketika masyarakat merasa didengar, dihargai, dan diperlakukan sebagai bagian penting dari proses pemerintahan.
Hal menarik dari kegiatan Jumling KDS adalah adanya santunan kepada anak-anak yatim. Dengan demikian, kegiatan keagamaan itu tidak berhenti pada kesalehan ritual, tetapi diteruskan menjadi kesalehan sosial.
Bagi KDS, kegiatan tersebut sebagai bagian dari cara nya untuk memuliakan anak-anak yatim sesuai dengan pesan alQuran, salah satunya, Surah Al-Ma’un. Disitu disebutkan, bahwa orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong pemberian makan kepada orang miskin sebagai orang yang mendustakan agama.
Setelah itu, Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan kepada orang-orang yang melaksanakan shalat tetapi lalai terhadap makna sosial shalatnya. Orang yang rajin bersujud kepada Allah semestinya semakin peka terhadap penderitaan manusia.
Ibadah yang baik bukan hanya membuat dahi dekat dengan sajadah, tetapi juga membuat hati semakin dekat dengan anak yatim, orang miskin, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan perlindungan.
Dalam pandangan KDS, anak-anak yatim, terutama yang berada di wilayah Kabupaten Bandung, merupakan bagian dari masyarakat yang tidak boleh diabaikan, apalagi ditelantarkan.
Mereka harus diperlakukan sebagai anak-anak istimewa yang wajib dimuliakan, disayangi, dan dijamin hak-hak dasarnya.
Masih dalam spirit pesan tersebut, KDS juga dalam waktu dekat akan membuat program rutin mengundang anak-anak yatim secara bergiliran menginap di rumah dinas bupati.
Selain anak-anak yatim, KDS juga akan mengundang warga kurang mampu yang punya kontribusi seperti pemungut sampah, peduli lingkungan dan sejenisnya juga untuk mengingap di rumah dinas bupati.
Jika direalisasikan dengan baik, gagasan tersebut mempunyai pesan simbolik yang kuat. Rumah dinas tidak lagi dipandang sebagai bangunan elite yang tertutup dan berjarak dari rakyat. Rumah dinas hendak dijadikan rumah rakyat, termasuk rumah yang ramah bagi anak-anak yatim.
Bagi sebagian orang, menginap di rumah dinas mungkin terlihat sebagai kegiatan sederhana. Namun, bagi seorang anak yatim, pengalaman diterima, dijamu, diajak berbicara, dan diperlakukan secara terhormat oleh seorang bupati dapat meninggalkan kenangan yang sangat dalam.
Mereka memperoleh pesan psikologis bahwa kehilangan seorang ayah tidak membuat mereka kehilangan perhatian masyarakat dan negara.
Memuliakan anak yatim bukan berarti mengasihani mereka secara berlebihan.
Mereka harus ditempatkan sebagai anak-anak yang memiliki harga diri, kemampuan, cita-cita, dan masa depan.
Inilah makna lebih luas dari Jumling yang dilakukan KDS. Dari masjid, seorang pemimpin menyapa rakyat. Dari sajadah, lahir kepedulian untuk memuliakan anak-anak yatim. Dari silaturahmi, ditemukan aspirasi.
Dan dari perjumpaan dengan anak-anak yatim, diharapkan lahir kebijakan yang memastikan bahwa tidak seorang pun di Kabupaten Bandung merasa berjalan sendirian.