AP2TPI: AI Harus Jadi Mitra, Bukan Pengganti Psikolog

Sabtu 25-07-2026,10:05 WIB

 

Ia menegaskan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan tersebut. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, fasilitas kesehatan, dan masyarakat agar layanan kesehatan mental semakin mudah diakses.

 

Forum ilmiah itu juga menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Brian Yuliarto, yang membahas kontribusi pendidikan tinggi psikologi dalam menghadapi era Generative AI.

 

Sementara itu, akademisi internasional Prof. James W. Pennebaker memaparkan perkembangan ilmu psikologi global, termasuk arah riset dan pemanfaatan teknologi dalam ilmu perilaku.

 

Selain membahas perkembangan teknologi, kolokium menghasilkan berbagai pembahasan strategis mengenai penyempurnaan kurikulum pendidikan psikologi jenjang sarjana hingga doktor, evaluasi Pendidikan Profesi Psikolog, Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), penguatan akreditasi, hingga pengembangan laboratorium pendidikan.

 

Sehari sebelum kolokium utama, peserta juga mengikuti tujuh workshop yang membahas standar laboratorium psikologi, implementasi AI dalam pembelajaran, pengembangan psikometri, akreditasi program studi, hingga pendekatan terapi seperti Gottman Method Couples Therapy dan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT).

 

Kolokium yang digelar melalui kolaborasi 14 perguruan tinggi penyelenggara pendidikan psikologi di Jawa Barat itu diharapkan melahirkan rekomendasi nasional bagi transformasi pendidikan psikologi Indonesia.

 

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pesan yang mengemuka dalam forum tersebut tetap sama: kecerdasan buatan dapat mempercepat pekerjaan manusia, tetapi empati, pertimbangan etik, dan tanggung jawab profesional tetap menjadi fondasi utama profesi psikolog.

 

Tags :
Kategori :

Terkait