RADAR JABAR - Transformasi digital telah mengubah secara fundamental cara masyarakat mengonsumsi informasi, menuntut humas pemerintah untuk tidak lagi sekadar menyampaikan pesan, tetapi mampu mengemasnya secara kreatif, sederhana, dan relevan. Hal ini ditegaskan oleh perwakilan Direktorat Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Angki Kusumadewi, dalam kegiatan Aksi Bakohumas Masterclass Pengelolaan Konten: Seni Mengemas Pesan Publik menjadi Konten Kreatif yang diselenggarakan di Bandung pada 27 April 2026.
Dalam sambutannya, Angki menegaskan bahwa kegiatan bimbingan teknis ini merupakan bagian dari kontribusi Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) dalam meningkatkan kapasitas humas pemerintah di seluruh Indonesia, baik di kementerian, lembaga, maupun pemerintah daerah.
“Kegiatan ini merupakan upaya kami untuk mengakomodasi kebutuhan peningkatan kapasitas humas di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat cepat. Humas masa kini dituntut mampu mengolah data menjadi pesan publik yang lebih kreatif, sederhana, relevan, dan mudah dipahami,” ujarnya.
BACA JUGA:Kemenhub Dukung Komisi Nasional Keselamatan Transportasi Selidiki Insiden KA di Bekasi Timur
Ia menekankan bahwa perubahan perilaku audiens, khususnya di era digital, menuntut pendekatan komunikasi yang berbeda. Masyarakat kini cenderung mengonsumsi informasi secara cepat, melakukan scanning, serta lebih menyukai konten audiovisual dibandingkan teks panjang. Dalam konteks ini, humas tidak cukup hanya mengandalkan validitas data, tetapi juga harus mampu memastikan pesan tersebut menarik perhatian dan membangun keterlibatan publik.
“Intinya bagaimana humas bisa kreatif di tengah terpaan konten digital yang begitu masif, sehingga informasi yang disampaikan tidak hanya sampai, tetapi juga bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat,” tambahnya.
Kegiatan yang diikuti oleh insan humas dari berbagai kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah ini berlangsung secara luring dan daring, sekaligus menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat kompetensi komunikasi publik di tengah tantangan disrupsi digital yang semakin kompleks.
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas tersebut, kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Katadata, yaitu Muhammad Yana dan Maria Margareta Delviera, yang berbagi pengalaman dalam mengolah data menjadi konten yang menarik dan berdampak.
BACA JUGA:Jateng Matangkan Persiapan MTQ Nasional 2026, Taj Yasin Minta Dukungan Pemerintah Pusat
Dalam sesi masterclass, Muhammad Yana menyoroti persoalan klasik komunikasi publik, yakni banyaknya data valid yang tidak tersampaikan secara efektif kepada masyarakat karena lemahnya kemasan konten.
“Bayangkan kita punya data yang sahih dan penting, tapi setelah dipublikasikan tidak ada yang membaca. Pertanyaannya, yang salah datanya atau kemasannya?” ujarnya.
Menurutnya, di tengah arus informasi yang sangat cepat, kemampuan memilah data dan mengemasnya dalam format visual menjadi kunci. Konten berbasis visual dinilai lebih efektif dalam menyederhanakan informasi kompleks, menarik perhatian, serta meningkatkan pemahaman audiens.
“Ketika kita terjebak pada teks yang panjang dan kompleks, pembaca akan kesulitan. Sebaliknya, visual yang kuat mampu merangkum informasi, membuatnya lebih menarik, dan akhirnya pesan bisa sampai,” jelasnya.
Sejalan dengan itu, kegiatan ini menekankan bahwa tujuan utama komunikasi publik tetap sama, yaitu memastikan pesan tersampaikan secara efektif, terlepas dari bentuk medianya. Namun, dalam konteks digital saat ini, keberhasilan tersebut sangat ditentukan oleh kemampuan humas dalam menggabungkan validitas data dengan kreativitas penyajian.