Gejolak Konflik Iran-AS-Israel, BI Kawal Rupiah Agar Sesuai Fundamental Ekonomi

Senin 02-03-2026,11:30 WIB
Reporter : Fadillah Asriani
Editor : Fadillah Asriani

RADAR JABAR - Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus memantau dinamika pasar keuangan secara cermat serta mengambil langkah responsif yang diperlukan, termasuk menjaga agar nilai tukar rupiah tetap bergerak sesuai dengan fundamental ekonomi. Langkah ini dilakukan menyusul meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat-Israel yang memicu sentimen risk off di pasar global.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, dalam keterangan resminya di Jakarta pada Senin, memastikan bahwa bank sentral tetap aktif berada di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Intervensi tersebut dilakukan melalui sejumlah instrumen, di antaranya transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di dalam negeri.

Erwin menambahkan, BI juga akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan guna memperkuat efektivitas transmisi suku bunga terhadap perekonomian.

Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin pagi (2/3), nilai tukar rupiah tercatat melemah 42 poin atau sekitar 0,25 persen menjadi Rp16.829 per dolar AS. Angka ini turun dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp16.787 per dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berpotensi tertekan sepanjang hari akibat eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Ia memproyeksikan pergerakan rupiah berada di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS.

Menurutnya, pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh kecenderungan investor global yang menghindari aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Ketegangan memuncak setelah pada Sabtu (28/2), Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut terjadi tak lama setelah putaran ketiga perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir Teheran berakhir pada Kamis (26/2) malam di Jenewa.

Serangan gabungan AS dan Israel dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban sipil. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan berupa rudal yang menyasar wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Situasi semakin memanas setelah pada Minggu (1/3), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut. Klaim itu kemudian dikonfirmasi oleh televisi pemerintah Iran yang menyatakan bahwa Ali Khamenei meninggal dunia akibat serangan gabungan AS-Israel.

Pemerintah Iran pun menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta meliburkan aktivitas kerja selama satu pekan menyusul wafatnya pemimpin tertinggi mereka.

Selama masa kekosongan jabatan, tugas-tugas kepemimpinan akan dijalankan oleh Presiden Iran bersama Ketua Pengadilan serta seorang anggota Dewan Wali Iran.

 

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Angkatan Darat Iran dalam pernyataan resminya menegaskan komitmen untuk membalas kematian Sayyid Ali Khamenei, yang mereka sebut sebagai syahid revolusi.

Kategori :