Wali Kota Bandung Ajak Anak-Anak Membiasakan Pilah Sampah Sejak Dini
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menghadiri program Ramadan 1447 Hijriah bertajuk “Bahagiakan 1000 Anak Yatim” yang diselenggarakan oleh Yayasan Darul Hikam di Hotel Ultima Horison Bandung, Senin 9 Maret 2026.--Humas Kota Bandung/Kepala Diskominfo Kota Bandung Henryco Arie Sapiie.
RADAR JABAR DISWAY – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengajak warga untuk menanamkan kesadaran pengelolaan sampah kepada anak-anak sejak dini.
Farhan menyampaikan sarannya itu ketika menghadiri program Ramadan 1447 Hijriah bertajuk “Bahagiakan 1000 Anak Yatim” yang diselenggarakan oleh Yayasan Darul Hikam di Hotel Ultima Horison Bandung, Senin 9 Maret 2026.
Menurut dia, pentingnya edukasi pemilahan sampah organik dan non-organik kepada anak-anak merupakan langkah awal dalam mengatasi persoalan sampah di Kota Bandung.
Saat ini ‘Paris van Java’ disebutnya sedang menghadapi tantangan besar seputar meningkatnya sampah organik, khususnya dari sisa makanan atau food waste.
BACA JUGA:Pemkab Bandung Barat Kaji Lokasi Relokasi Korban Longsor di Desa Pasirlangu
BACA JUGA:Siapkan Rp 12 Miliar, Bupati Bandung : P3K Paruh Waktu Segera Terima THR Idul Fitri
Salah satu sumbernya berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang berlangsung di berbagai sekolah.
“Apalagi sekarang ini dalam rangka menyukseskan program Presiden Prabowo yaitu Makan Bergizi Gratis. Anak-anak sekolah yang menerima program itu menghasilkan sisa makanan atau food waste yang cukup besar,” ujarnya dalam kesempatan tersebut, dikutip dari situs resmi Pemkot Bandung, Selasa (11/3/2026).
Di Kota Bandung saat ini, ucap Farhan, ada sekitar 222 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani ribuan siswa setiap harinya.
Dalam praktiknya, acapkali ditemukan banyak sisa makanan pada tempat makan yang dikumpulkan setelah kegiatan makan bersama.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung pun sedang merancang sistem pengolahan sampah makanan langsung di lingkungan sekolah untuk mengatasi masalah itu.
“Ke depan kami akan bersinergi agar sisa makanan ini tidak dikembalikan ke dapur atau ke SPPG. Tetapi diolah di sekolah masing-masing, paling tidak dipilah terlebih dahulu di sekolah,” kata Farhan.
BACA JUGA:Persatuan Islam Gelar PERSIS Ramadan Expo 2026, Kolaborasikan Dakwah, Pendidikan, dan Ekonomi
BACA JUGA:Libur Lebaran, Pemkot Bandung Wacanakan Pembukaan Bandung Zoo
Sekolah yang belum memiliki sarana pengolahan sampah organik nantinya akan dibantu oleh pemerintah kewilayahan melalui kelurahan untuk mengelola sampah tersebut.
“Apabila sekolah belum mampu membuat sarana pengolahan sampah organiknya, maka pihak kewilayahan dari kelurahan akan mengambil alih sampah tersebut untuk diolah di wilayahnya,” tutur dia.
Manuver itu merupakan bagian dari target besar Pemkot Bandung guna menjamin tidak ada sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Sehingga tercapai target, tidak ada satu pun sampah organik yang kemudian dibawa dan dibuang ke tempat pembuangan akhir. Semuanya harus selesai di wilayah masing-masing, termasuk di sekolah,” jelas Farhan.
Ia menilai edukasi pemilahan sampah harus dimulai dari anak-anak, dengan harapan bahwa memahami perbedaan sampah organik dan non-organik sejak dini bisa terbawa sampai dewasa.
Farhan mengambil contoh negara-negara maju seperti Jepang dan Denmark yang sukses mengelola sampah secara efektif imbas budaya pemilahan sudah tertanam kuat di masyarakat.
“Semuanya diawali dengan pemilahan. Kalau proses edukasi pemilahan ini kita lompati, maka teknologi pengolahan sampah yang kita miliki di hilir tidak akan bisa optimal.” Pungkasnya.
Sumber: