Tanggalkan Ijazah Kampus Demi Jadi Penerus
osok Hasyim (24) asal Kota Bogor yang pilih jadi penerus usaha keluarga. -Regi Pratasyah-Istimewa
RADAR JABAR - Ruangan pinggir Jalan Mandala, Pomad, Kota Bogor, selalu menjadi pilihan bagi orang-orang untuk mengeluarkan darah dengan alat. Tampak depannya penuh dengan kaca dan kalimat untuk mengobati maupun mencegah penyakit yang diderita oleh pasien.
Ruangan tersebut sangat dekat dengan Simpang Pomad, kendaraan yang mengular sampai SMPN 15 Bogor itu menjadi pemandangan tidak terelakan bagi para pasien.
Tak jarang, riuh klakson dari para pengendara tidak sabar menjadi alternatif musik bagi pasien yang sedang menunggu giliran.
Di dalam ruangan yang terhalang tirai hijau, alat-alat kesehatan itu tertata dengan rapih dan bersih. Hal itu membuat pasien yakin pada pelayanannya.
Hasyim (24) lulusan sarjana dengan IPK yang diharapkannya, harus mengubur mimpinya menjadi seorang pegawai kantor gedung tinggi maupun bekerja dengan seragam yang dinilai telah mencapai titik kesuksesan akhir.
Jika anak seumurannya bekerja dengan memegang alat-alat teknisi listrik, Hasyim memegang alat bekam. Jika orang lain membawa laptop keluaran terbaru, Hasyim hanya membawa buku catatan pemanggilan pasien.
Sejak 2008, jasa bekamnya masih dipegang oleh orang tuanya. Namun sejak 2025 lalu, Hasyim mulai meneruskan usaha tersebut agar dapat menyambung hidup.
"Belajar bekam dari orang tua aja, orang tua dulu ikut pelatihan gitu kan dulu di Ciawi ada gurunya. Ada sertifikat, nah ilmunya diturunin ke saya," kata Hasyim saat ditemui di Pomad, pada Jumat (16/1/2026).
Tak hanya bergantung pada ilmu yang diberikan orang tuanya, Hasyim juga memiliki keinginan untuk menambah ilmu lain seperti akupuntur.
Ia bisa melayani pasien dua sampai tiga orang per harinya, dengan biaya Rp 80 ribu mulai dari pukul 9 Pagi sampai 9 Malam.
"Ngobatin berbagai macam penyakit dalam, kolesterol, asam urat, rata-rata itu pasien saya," ujarnya.
Selain itu, banyak juga pasiennya yang datang hanya mengeluhkan rasa lelah agar dapat pelayanan bekam darinya. "Itu malah lebih bagus, karena kan bekam ini kan ngambil darah kotor ya," tambah dia.
Hasyim juga memutar otaknya, agar mengembangkan bisnis keluarganya tersebut mengenakan ilmu yang diperoleh dari kampus.
Ia kerap kali membuat pemasaran menggunakan ilmu perguruan tinggi untuk mendapatkan pasien baru dan mengepakkan sayap usahanya.
"Saya kan nerusin bapak saya, saya tuh gimana caranya biar banyak pasien datang dengan cara saya sendiri dengan memasarkan sendiri, via media sosial," jelasnya.
Adapun, Hasyim juga masih berusaha untuk mencari pekerjaan lain mengandalkan ijazah perguruan tingginya tapi selalu mendapat jawaban yang tidak pasti.
Maka, ia memutuskan untuk tidak berusaha mencari lagi dan fokus untuk meneruskan usaha milik keluarganya tersebut sampai mendapatkan pekerjaan lain.
"Kalau untuk cari kerjaan lain belum, soalnya cari kerjaan sekarang susah ya, saya udah apply kemana-mana belum keterima. Mungkin belum rezeki, nerusin untuk sementara aja," pungkasnya. (Reg).
Sumber: