Penelitian Terobosan Terapi Oksigen Hiperbarik, Studi Doktoral Erick Supondha Jadi Pertama di Indonesia
Momen Kelulusan: Dr. Erick Supondha berfoto bersama jajaran promotor dan tim penguji usai Sidang Promosi Doktor Ilmu Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung.-Firman Satria (Mong)-
RADAR JABAR, BANDUNG - Menyelesaikan studi doktoral bukan sekadar meraih gelar akademik, tapi juga menjadi awal dari tanggung jawab ilmiah yang lebih luas.
Hal ini tergambar dari riset Erick Supondha yang menutup pendidikan doktornya dengan kajian mendalam di bidang terapi oksigen hiperbarik (Hyperbaric Oxygen Therapy/HBOT), salah satu cabang medis strategis yang masih terbatas fasilitas dan standar peralatannya di Indonesia.
Disertasi Erick berjudul "Perbedaan Pengaruh Pemberian Terapi Oksigen Hiperbarik dan Udara Kompresi Sebelum Penyelaman Dekompresi terhadap Perubahan Protein Karbonil, IL-6, CASP-3, CASP-9, Gambaran Histopatologi Otak, serta Analisis Gait pada Tikus Sprague Dawley".
Penelitian ini menjadi yang pertama, baik di tingkat nasional maupun internasional, yang mengkaji pencegahan penyakit dekompresi dengan terapi oksigen hiperbarik menggunakan interval waktu pendek yang aplikatif di lapangan.
BACA JUGA:PT Penerbit Erlangga Dorong Indeks Literasi Bandung Lewat Roadshow Perpustakaan Keliling BIMO
Bahkan pada kondisi penyelaman ekstrem, terapi oksigen hiperbarik mampu memberikan proteksi optimal, terutama jika diterapkan pada penyelaman konservatif.
Menurut Erick, hasil riset ini membuka peluang penerapan HBOT secara lebih luas untuk keselamatan penyelam profesional maupun rekreasional.
Terapi Oksigen Hiperbarik kini semakin diakui sebagai metode unggulan dalam dunia medis. Terapi ini dilakukan dengan menghirup oksigen murni di ruang bertekanan tinggi, sehingga kadar oksigen dalam darah meningkat signifikan.
Peningkatan oksigen ini bermanfaat dalam penanganan berbagai kondisi medis, mulai dari penyakit dekompresi, keracunan gas, hingga mempercepat penyembuhan luka kronis, termasuk pada pasien diabetes, melalui proses regenerasi jaringan sel.
Riset Erick menegaskan bahwa penelitian lokal di bidang HBOT tidak hanya mampu bersaing secara internasional, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan standar medis dan keselamatan penyelam di Indonesia.
"Hari ini saya berdiri di sini dan dapat menyelesaikan perjalanan studi doktor saya. Namun, ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru untuk mengamalkan ilmu yang telah saya peroleh," ujar Erick saat diwawancara, Jum'at (16/1/26).
Ia menegaskan bahwa pencapaian akademik tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang sarat tantangan, baik dari sisi teknis, administratif, maupun etik penelitian.
Salah satu kendala terbesar yang dihadapi adalah keterbatasan alat hiperbarik yang memenuhi standar medis untuk kepentingan riset.
Sumber: